1. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami
gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada
pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tandatanda
abnormalitas. Hasil
pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, hematokrit = 28 %, m3.
Apus darah tepi dan MCV 94 normositer dan normokromik.mmenunjukkan selsel
eritrosit
Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab kondisi pasien
tersebut ?
A) Perdarahan akut
B) Leukemia limfositik kronik
C) Anemia Sideroblast
D) Defisiensi erythropoietin
E) Defisiensi enzim eritrosit
2. Seorang lakilaki
berusia 30 tahun yang sebelumnya dalam keadaan sehat, menderita
demam dan pruritus, berkeringat malam, serta menemukan benjolan di atas klavikula sinistra
selama tiga minggu. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran nodus lymphatikus yang
tidak nyeri, berdiameter 3 cm, berkonsistensi kenyal dan berlokasi di regio supraklavikula.
Pemeriksaan sinar X thoraks memberi kesan adanya limfoadenopati
mediastinal. Manakah
jawaban yang paling tepat di bawah ini yang merupakan penyebab penyakit pada pasien
tersebut?
A) Tuberkulosis
B) Karsinoma metastatik
C) Penyakit Hodgkin
D) Sarkoidosis
E) Mononukleosis infeksiosa
3. Seorang anak lakilaki
berusia 8 digigit oleh seekor lebah. Dalam lima menit terlihat lesi
yang membengkak, berukuran 2 cm, dan berwarna merah di tempat gigitan tersebut. Di
antara jawaban berikut, temuan manakah yang dominan pada lesi gigitan tersebut ?
A) Reaksi terhadap korpus alienum
B) Perdarahan
C) Infiltrasi limfositik
D) Migrasi neutrofilik
E) Vasodilatasi
4. Seorang lakilaki
berusia 80 tahun menderita sebuah karsinoma ulseratif pada kulit
skrotum dextra. Grup kelenjar manakah di bawah ini yang pertama kali akan menerima selsel
metastatik dari karsinoma tersebut ?
A) Iliaka eksterna
B) Iliaka Interna
C) Inguinal superfisialis
D) Inguinal profunda
E) Lumbar (paraaorta)
5. Seorang anak perempuan berusia 4 tahun tidak dapat makan selama dua hari karena
penyakit gastrointestinal.
Dari jawaban di bawah ini, manakah yang menjadi sumber utama
energi yang akan dioksidasi pada otot rangka penderita tersebut ?
A) Kreatin Fosfat otot
B) Glikogen otot
C) Trigliserida otot
D) Asam lemak serum
E) Glukosa serum
6. LAkilaki,
60 tahun berdebar, badan mengurus, nafsu makan meningkat, mudah emosi,
keringat meningkat, sulit tidur.
a.hipertiroid
b.hipotiroid
c.Diabetes Melitus
d.Diabetes Insipidus
e.Sindroma Cushing
7.Lakilaki,
24 tahun, terdapat benjolan di leher depan, tidak sakit. Orang sekampung
memiliki sakit yang sama seperti ini.
a.Defisiensi Krom
b.Defisiensi vit B1
c.Defisiensi Iodium
d.Oklusi kelenjar lemak
e.Tumor kelenjar getah bening
8.25 tahun, demam, linu, memakai putow 5 th, 3x/hari dan lemes. 5 jam yg lalu pasien
gelisaah, keluar ingus banyak, Keadaan manakah yang sesuai dengan kondisi diatas….
a.Sindroma Withdrawal
b.Overdosis
c.Keracunan kronik
d.Adiksi
e.Toleransi
9.Keadaan manakah yang paling sesuai untuk penggunaan putow pada kasus:
a.Adiksi
b.Toleransi
c.Abstinensia
d.Sugesti
e.Overdosis
10. Seorang lakilaki,
20 tahun mengeluh BAK warna kuning sejak 2 hari. Pada Pemeriksaan
fisik terlihat sclera ikterik dan kulit warna kuning. Pemeriksaaan lanjutan apa yang anda
usulkan pada pasien ini ?
a.SGOT/PT
b.Ureum/creatinin
c.As. Urat
d.GDS dan GDP
e.Kolesterol total dan LDL
11. Seorang wanita, 30 th dibawa keluarga ke UGD karena muntah darah. Riwayat pasien ini
menderita Hepatitis B kronik. Pemeriksaan fisik tampak lemas, TD 140/90, Nadi 90x/mnt,
Konjungtiva Palpebra anemis (+), Rambut ketiak (),
ginekomasti (+), spider navi (+), Liver
span 5 cm. Apa penyebab hematemesis pada pasien ini?
a.Sind. Mallory Weiss
b.Pecahnya Varises Esofagus
c.Esofagitis
d.Perforasi Ulcus Gaster
e.Perforasi Ulcus duodenum
12. Pemeriksaan Radiologis Rutin pada anak umur 2 bulan:
a.Foto thorax PA
b.Foto thorax lateral kiri
c.Foto top lordotik
d.foto
e.Foto thorak lateral kanan
13. Sesak 2hr, batuk, panas tinggi, flu 3hari. Respirasi 53x/menit, t 390C cuping hidung (+).
a.Efusi pleura
b.Bronkopneumonia
c.Pneumonia
d.Sind Schwarte
e.Atelektasis
14. Seorang wanita hamil 29 minggu datang untuk ANC. Tensi 150/90, proteinuri +2.
Trombosit , hepar Normal. Yang dilakukan:
a.SC
b.Induksi Persalinan
c.Pemberian Mg S04
d.Pemberian Diazepam
e.????KONSERVATIF
15. Wanita G3P2A0 Riwayat SC, hamil aterm, 20 jam inpartu belum lahir, 3 jam dipimpin
belum lahir. VT: terapa tangan, letak belakang kepala. CPD relatif Tindakan?
a.SC
b.Partus Percobaan
c.Vacum
d.Forsep
e.Kristeler
16. Lakilaki,
50 th. Hipertensi selama 5 th T= 170/100 mmhg, anjuran anda sebagai dokter
keluarga:
a.Pola makan
b.Olahraga aerobik
c.Mengurangi strees
d.Berhenti merokok
e.Mengganti obat
17. Kejadian pada anak usia 5 th dimana ibunya belum pernah vaksinasi TT, pilih salah satu
yang benar:
a.epidemik
b.endemik
c.pandemik
d.wabah
e.KLB
18.Anak Perempuan 13 th dibawa ibunya ke poliklinik dengan keluhan panas badan terus
menerus sejak 3 hari yll (keringat dingin (+).. ? tulisan ga jelas) nyeri kepala, nyeri otot t.u
tungkai,mual muntah, keluar darah dari hidung, bintik2 merah. Px selanjutnya?
a.Tes RL
b.Widal
c.Darah rutin
d.Apus tenggorok
e.mantoux
19.Suntika PP 1,5 jt unit i.m pada laki2 50 th. Tiba2 pasien jatuh ke lantai. PF: kesadaraan
menurun, TD 60/ palp, N:120x/mnt, RR=24x/mnt. Penyebab:
a.Ggg pompa jantung
b.Perdarahan hebat
c.Rasa sakit yang berat
d.Hipoglikemi
e.Vasodilatasi hebat
20. laki2 25 th gatal2 seluruh tubuh setelah makan udang. Sejak 5 th yll. Sel apa yang jmlnya
meningkat?
a.sel plasma
b.mast cell
c.fibrosit
d.makrofag
e.PMN
21. Perempuan, 35th, hamil anak ke 4, dtng ke RS dengan keluhan cepat lelah dan lesu. PF:
tidak ada pembesaran organ, Hb =8, Leu 12 rb, Tr 350rb, mikrositik hiokrom,
anisopoikilositosis, eliptosit, Hit jenis dbn, retikulosit dbn. Pemeriksaan Lab yang tepat?
a.kadar besi
b.diff count
c.elektroforesis Hb
d.analisa tinja
e.?? ( tulisan ga jelas)
22. seorang pasien tidak sadar di bawa ke UGD stlh menjd korban tabrak lari. N >120 TD
turun, kehilangan darah 3040%.
Mnrt ATLS, klasifikasi syok perdarahan?
a. I, b. II, c. III, d IV, e V
23. 40 th laki2 henti jantung, resusitasi dan ...?, jika tindakan benar, maka tekanan darah:
a.110/10 >
MAP > 40mmHg
b.B. 110/80
c.110/50
d.100/40
e.110/79
24. wanita 40th, berdebardebar,
berat, tertekan, nyeri dada kiri, takut mati.
a.AMI
b.Pneumotorak
c.Perikarditis
d.Kataton
e.Cemas akut
25.Bayi 8 bln, BAB 45
x/hari dan sisa makanan yang belum tercerna selama 2 mg. Ibu
bekerja memberi ASI 1x sebelum dan 34
x setelah kerja. MPASI 3x bubur susu, 1x sari
jeruk peras. Ayah tidak bekerja dan nenek membantu mengasuh bayi. Apa yang mendsari
BAB tsb?
a.bayi ditinggal kerja ibu
b.nenek membantu nmengasuh
c.bubur susu 3x
d.sari jeruk 1x
e.ayah tidak bekerja
26. Pria 25 th demam 10 hari, mulamula tidak tinggi lalu makin lama makin tinggi terutama
di sore hari dan malam. 3hr pertama panas dan mencret, tampak apatis. 3hr mendapat
paracetamol dan ampisilin tidak membaik. Pemeriksaan u/ menegakkan diagnosa etiologi?
a.widal, gal/bulyon,kultur darah, serologis
b.inhibisi hemaglutinasi
c.apus darah tebal
d.serologis leptospirosis, widal
e.widal, kultur gal/bulyon, kultur feces
27.Bayi, lubang kencing tidak lazim, pembesarah klitoris, muara uretra ...., rencana?
a.foto rontgen
b.lab darah
c.obserfasi di pusk
d.pasang kateter
e.rujuk poli bedah
28.Bengkak pada mata, kelopak, 2mg timbul pada tungkai dan perut, kencing merah, protein
urine 4+
a. GGK,b. SNA, c. SN,d. gagal jantung, e. sirosis hepar,
23.laki2, luka pada kemaluan, 2hr ulcus sekitar gland penis keras, nyeri (),
bersih, rata, PSK
1bln.
a.Ukus banal
b.Ulkus mole
c.Ulkus durum
d.Kompleks primer
e.Ulkus bubanum
29.Bayi laki2 45 th, dibawa ke UGD dengan kel perdarahan yang sulit berhenti di bekas
suntikan im hep B. Pada PF: KU baik, perdarahan merembes di paha kiri bekas suntikan,
perdarahan tempat lain tidak ada, anemi(),
ikterik (),
hepatomegali (),
splenomegali(),
limfadenopati ().
Lab darah : Hb 11, Leu 8500, trom 170rb, PT PTTK meningkat. Dx?
a.ITP, b. Hemofili A,c. Hemofili B,d. Def vit K,e. DIC
30.manakah dari dibawah ini yang paling mungkin mndasari anemi pada kasus diatas?
a.ggg prod
b.destruksi
c.perdarahan kronis
d.”
akut
e.kongenital
31.Benjolan dirahang bawah kiri, tidak nyeri 5 cm, mendesak daerah telinga keatas, tdk
paralise n.7
a.tm. Jinak kel parotis
b.tm ganas kel parotis
c.sialodenitis
d.TBC kel parotis
e.Hemangioma kel parotis
32.laki2 sdh 10th keluar cairan dari telinga kiri, putih, kental, bau busuk. Nyeri telinga (+),
demam (+), mulut mencenga kanan, CAE granulasi>
a.OMA
b.OMSK
c.Kolesteatoma
d.Otitis eks maligna
e.Granuloma
33. pasien datang ke dr.A dengan terlambat datang bulan ± 3 bulan. G3P2A0, anak terkecil 7
bulan. Dokter A menolak memberikan terapi dan meyarankan pergi ke dr.B. Dokter B
memberi obat dan diminta kontrol setelah 5 hari. Tindakan dr.A adalah…
a. benar, melanggar hukum
b. benar, melawan hukum
c. salah, melanggar hukum
d. salah, melawan hukum
34. Lakilaki,
trauma dada, nafas sesak, ngorok. Perkusi dada kiri hipersonor. Saat nafas dada
kiri tertinggal. Nadi tak teraba, akral dingin. Apa yang dilakukan di UGD?
a. beri O2 sungkup, nafas spontan & dekompresi jarum
b. beri O2 sungkup, nafas bantu & dekompresi jarum
c. intubasi, O2 sungkup,nafas spontan & dekompresi jarum
d. intubasi, O2 sungkup,nafas bantu & dekompresi jarum
e. langsung dekompresi jarum
35. Lakilaki,
40 tahun, karena mengalami kesakitan tak tertahankan karena menderita tumor
ganas, penderita minta euthanasia. Apa alasan dokter memperbolehkan euthanasia?
a. usia tua
b. menghilangkan penderitaan pasien
c. atas permintaan pasien
d. hak manusia untuk emnentukan hak hidup matinya sendiri
e..
36. Lakilaki,
sesak, demam 3 hari. Riwayat ayam tetangga mati mendadak dalam
peternakan. Rontgen paru : infiltrat luas di lapangan paru. Di bawah ini yang benar :
a. hewan reservoar tidak ada
b. termasuk virus influensa tipe B
c. berkembang biak di sitoplasma sel hospes
d. antigenik variasi pada Ag H dan Ag N
37. umur 7 tahun, perdarahan pervaginam, tanda seks sekunder (+). Riwayat trauma genital
disangkal.
a. menarche
b. pubertas dini
c. pubertas tarda
d. klimektarium
38. 20 tahun, primi, hamil 37 minggu. T = 180/110, udem anasarka. AKI tinggi selain
disebabkan penyakit di atas adalah...
a. DM
b. perdarahan post partum
c. tumor payudara
d. tumor serviks
39. anak 15 tahun. Saat kecil sering demam dan kejang. Sekarang sulit naik kelas dan masih
kelas 2 SD. Kemungkinan diagnosanya adalah...
a. retardasi mental
b. deprivasi mental
c. hiperaktif
d. epilepsi
e. deterionasi mental
40. Seorang ibu, bayi perempuan 8 bulan, BAB ± 4 – 5 x/hari disertai sisa makanan yang
belum tercerna sempurna sejak 2 minggu terakhir. Ibu bekerja sebagai guru & memberikan
ASI 1x sebelum berangkat kerja & sepulang kerja 34
x . Makanan tambahan bubur susu
3x/hari & sari jeruk peras 1x sehari. Ayah tidak bekerja, nenek bantu asuh bayi. Anjuran
terbaik?
a.Sementara ibu berhenti bekerja
b.Pemberian bubur susu dihentikan
c.Pemberian sari jeruk peras dihentikan
d.Diberikan imunisasi
e.Dikonsultasikan ke puskesmas
41. Balita sesak nafas, badan panas, terdapat nafas cuping hidung, obat apa yang paling
tepat ?
A. Ampicillin
B. Amoksisilin
C. Cefotaxim
D. Kotrimoksasol
E. Eritromisin
42. Anak 5 tahun terjatuh, luka robek 2 x 1 cm diberi obat povidon iodine maka jenis
penyembuhan lukanya adalah ……….
A. primary intention
B. secondary intention
C. tertiary intention
D. Delayed intention
E. acute intention
43. Seorang pasien lakilaki
18 tahun mengeluh gatalgatal.
Terdapat bercak makulo
hipopigmentasi berskuama halus di leher, bahu dan punggung bentuknya macammacam
apabila digaruk akan bersisik, Pemeriksaan dengan KOH 10% terdapat hifa yang pendek,
maka diagnosisnya adalah ………
A. Tinea capitis
B. Ptiriasis alba
C. Ptiriasi versicolor
D. Tinea korporis
E. Ptiriasis rosea gilbert
44. Lakilaki
dewasa hobi berenang, kemudian mengeluh kram di betis. Struktur yang
berperan pada kontraksi otot……..
A. Miofilamen
B. Sarkomer
C. protein aktin dan myosin
D. asam laktat
E. mitokondria
45. Seorang lakilaki
17 tahun diantar ke Puskesmas karena KLL, patah tulang terbuka kedua
tungkai, darah mengallir deras. Di Puskesmas penderita tenang, tertidur dan mengeluarkan
suara mendengkur seperti berkumurkumur.
Nadi a. radialis cepat dan lemah, ujung jarijari
dingin. Tindakan apa yang harus dilakukan pertama kali ?
A. membebaskan jalan nafas dan mengatur posisi kepala
B. memberi nafas buatan dari mulut ke mulut
C. mengangkat kedua tungkai, badan diberi alas papan keras
D. pasang infuse line cairan koloid dan vasopresor
E. pasang bidai pada kedua tungkai
46. Seorang anak 7 tahun datang bersama adiknya, keduanya dengan keluhan gatalgatal
di
seluruh tubuh, selasela
jari kaki dan tangan. Timbul papulpapul,
ada beberapa bentuk
vesikel. Lapisan kulit mana yang mengalami patologi pada fase awal penyakit tersebut ?
A. stratum corneum
B. stratum basale
C. stratum granulosum
D. stratum lusidum
E. stratum spinosum
47. Seorang wanita datang, sejak 2 hari terdapat bercakbercak
kemerahan di sekitar mulut,
keropeng di bibir. PF : Eritema, vesikel, bula di sekitar bibir dan mukosa mulut. Riwayat
minum obat 5 hari yang lalu. Faktor pencetus yang paling mungkin………
A. alergi obat
B. infeksi
C. neoplasma
D. inflamasi
E. infestasi
48. Komplikasi penyakit tersebut diatas yang dapat menyebabkan kematian……..
A. meningitis
B. hepatitis
C. perdarahan gastrointestinal
D. DIC
E. sepsis
49. Ibu P2A1, setelah KET 1 bln, dtg untuk KB 3 thn. Suami tdk mau kondom/pantang
berkala. KB efektif:
a. IUD
b. KB Depoprovera
c. KB Estrogen
d. KB Pil
e. ....
50. Seorang pasien, 40 thn, mengeluh kesemutan di bibir bagian bawah setelah operasi gigi
bawah belakang 2 mgg y.l. Apa penyebabnya?
a. Alergi obat anestesi
b. Dosis obat berlebihan
c. Obat anestesi masuk pembuluh darah
d. Kelainan anatomi rahang
e. Trauma jar. Saraf
51. Lakilaki,
26 thn, mudah lelah, keringat >> pemeriksaanà , mata melotot, tremor
T3T4TSHàpenunjang apa yg perlu dilakukan?
27. ♀, 22 thn, suntik insulin seumur hidupàDM type I. Dasar kelainan metabolik tersebut :
a. Peningkatan proteolisis
b. Peningkatan lipogenesis
c. Peningkatan sekresi kolesterol
d. Penurunan glikogenolisis
e. Penurunan oksidasi ß
53. Lakilaki,
61 thn, pensiun, mengalami gangguan dlm mengingat urutan tgl lahir anaknya.
Gangguan tsb?
a. Depresi
b. Delirium
c. Paramnesia
d. Amnesia
e. Demensia
54. Anak 1 bln, putih di tengah mata, stlh dipx Katarak Kongenital. Operasi katarak
sebaiknya?
a. 68
bln
b. Setelah usia 1 thn
c. Setelah usia 2 thn
d. Setelah usia 5 thn
e. Sebelum usia pendidikan
55. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami
gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada
pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tandatanda
abnormalitas. Hasil
pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, hematokrit = 28 %, dan
MCV 94 normositermm3. Apus darah tepi menunjukkan selsel
eritrosit dan normokromik.
Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab kondisi pasien
tersebut ?
A) Perdarahan akut
B) Leukemia limfositik kronik
C) Anemia Sideroblast
D) Defisiensi erythropoietin
E) Defisiensi enzim eritrosit
jwb: D
56. Seorang lakilaki
berusia 30 tahun yang sebelumnya dalam keadaan sehat, menderita
demam dan pruritus, berkeringat malam, serta menemukan benjolan di atas klavikula sinistra
selama tiga minggu. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran nodus lymphatikus yang
tidak nyeri, berdiameter 3 cm, berkonsistensi kenyal dan berlokasi di regio supraklavikula.
Pemeriksaan sinar X thoraks memberi kesan adanya limfoadenopati
mediastinal. Manakah
jawaban yang paling tepat di bawah ini yang merupakan penyebab penyakit pada pasien
tersebut?
A) Tuberkulosis
B) Karsinoma metastatik
C) Penyakit Hodgkin
D) Sarkoidosis
E) Mononukleosis infeksiosa
jwb: C
57. Seorang anak lakilaki
berusia 8 digigit oleh seekor lebah. Dalam lima menit terlihat lesi
yang membengkak, berukuran 2 cm, dan berwarna merah di tempat gigitan tersebut. Di
antara jawaban berikut, temuan manakah yang dominan pada lesi gigitan tersebut ?
A) Reaksi terhadap korpus alienum
B) Perdarahan
C) Infiltrasi limfositik
D) Migrasi neutrofilik
E) Vasodilatasi
jwb: E
58. Seorang lakilaki
berusia 80 tahun menderita sebuah karsinoma ulseratif pada kulit
skrotum dextra. Grup kelenjar manakah di bawah ini yang pertama kali akan menerima selsel
metastatik dari karsinoma tersebut ?
A) Iliaka eksterna
B) Iliaka Interna
C) Inguinal superfisialis
D) Inguinal profunda
E) Lumbar (paraaorta)
Jwb: C
59. Seorang anak perempuan berusia 4 tahun tidak dapat makan selama dua hari karena
penyakit gastrointestinal.
Dari jawaban di bawah ini, manakah yang menjadi sumber utama
energi yang akan dioksidasi pada otot rangka penderita tersebut ?
A) Kreatin Fosfat otot
B) Glikogen otot
C) Trigliserida otot
D) Asam lemak serum
E) Glukosa serum
Jwb: B
60. Seorang lakilaki
berusia 35 tahun mengalami luka bakar pada seluruh ketebalan kulit
pada daerah dorsum manus. Sebuah flap rotasi dari kulit normal dan jaringan subkutaneus
dibuat untuk menutupi defek tersebut. Dari jawaban di bawah ini, pada lapisan manakah
pembuluh darah arterial yang akan memberikan vaskularisasi pada flap tersebut ?
A) Stratum Basale
B) Dermis bagian dalam
C) Stratum corneum
D) Stratum lucidum
E) Lemak subkutan
Jwb: E
61. Seorang lakilaki
berusia 24 tahun dirujuk ke unit gawat darurat rumah sakit setelah
tertusuk benda tajam di thoraks anterior pada sisi medial papilla mamae sinistra. Pada saat
tiba, diketahui tekanan darah = 70/50 mmHg. Venavena
leher tampak melebar.Suara
pernafasan vesikuler normal pada kedua paru. Dari pilihan jawaban di bawah ini, step
pengelolaan berikutnya yang paling tepat adalah:
A) Foto Sinar X Thoraks
B) Intubasi endotracheal
C) EKG
D) Insersi tabung pada cavum thoraks sebelah kiri.
E) Perikardiosentesis
Jwb: A
62. Seorang perempuan berusia 22 tahun berobat ke dokter 3 bulan setelah menemukan
sebuah benjolan pada kuadran lateral bawah mammae dextra. Pemeriksaan fisik
menunjukkan massa berdiameter 2 cm, berbentuk oval, padat, halus, dan mobil pada mamae
tersebut. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening axilla. Jika biopsi eksisi di
lakukan pada benjolan tersebut, maka kemungkinan besar akan menunjukkan tandatanda
penyakit:
A) Nekrosis lemak
B) Fibroadenoma
C) Kelainan fibrokistik mammae
D) Karsinoma intraduktal
E) Papilloma intraduktal
Jwb: B
63. Seorang wanita berusia 54 tahun dibawa ke unit gawat darurat oleh keluarganya karena
baal dan lemah pada tangan kiri dan kedua kakinya selama 2 jam. Dia memiliki riwayat
tekanan darah tinggi dan penggunaan alkohol serta merokok sebanyak 2 bungkus rokok
setiap hari selama 30 tahun. Rasa pada tangan kiri dan kedua kaki menurun dan kekuatan otot
adalah 0/5. Terdengar bruit pada arteri karotid kanan.
Manakah dari pemeriksaan di bawah ini yang paling tepat untuk penegakan diagnosis awal?
A) Electroencephalography
B) Carotid duplex scan
C) CT scan kepala
D) Echocardiography
E) Carotid angiography
Jwb: C
64. Satu hari setelah perbaikan terhadap ruptur aneurisma aorta yang dilakukan dalam
keadaan emergensi, seorang pria berusia 66 tahun menghasilkan urine sebanyak 35 mL
selama perioda 4 jam, sebuah kateter foley masih terpasang. Dia menerima 14 unit darah
selama operasi. Suhu tubuhnya 37.8°C (100 F), tekanan darah 104/68 mmHg, dan nadi
126x/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya edema perifer yang luas. Suara jantung
normal. Pada pemeriksaan dengan auskultasi suara paru terdengar bersih. Perut teraba lunak.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hematocrit 27%, Serum Na+ 143 mEq/L, K+
5.0 mEq/L, Urine Na+ 6 mEq/L. Manakah dari pernyataan di bawah ini yang merupakan
penyebab oliguria yang paling tepat untuk pasien tersebut?
A) Gagal jantung
B) Hypovolemia
C) Occluded Foley catheter
D) Renal artery thrombosis
E) Transfusion reaction
Jwb: B
65. Pria, 38 th, 2 mgg ini merasakan kaki kirinya terasa sangat nyeri saat tidur. sebenarnya
dirasa sakit sejak 1 tahun belakangan, namun hanya dirasakan bila berjalan. Penderita
mengeluh jarak tempuh makin lama makin pendek dan sering berhenti karena nyeri. Bila
istirahat nyeri hilang. Penderita seorang perokok berat. PF secara umum normal, pada eks.
inf. sinistra tidak teraba pulsasi a. dorsalis pedis dan tibialis posterior. pemeriksaan lab
normal.
Manakah diagnosis yg paling mungkin?
A. Acute arterial occlusion >
tdk mgkn akut sdh 1 thn
B. Thromboangitis obliterans
C. Diabetic arteriopathy
D. Chronic arterial thrombosis
E. atherosclerotic peripheral arterial occlusive disease
Jwb: B
66. pria, 31 th, menderita Buerger's disease. mengeluh ujung kelingking kaki kanannya
kehitaman dan bau. juga dirasakan sangat nyeri. PF umum normal, status lokalis: tampak
gangren kering pd ujung digiti V pedis dex. Lab: Hb 13,1 Leu 12.100 lab lain normal
Tindakan pd pasien:
A. Nekrotomi & debridement, kemudian disiapkan u/ amputasi elektif
B. Nekrotomi & debridement, kemudian diberi analgetik, antibiotik, & vasodilator oral
C. insisi & drainase, >
analgetik, antibiotik, vasodilator oral
D. tidak nekrotomi & debridement >
tapi analgetik, antibiotik, vasodilator oral ?
E. amputasi dgn anestesi lokal >
antibiotik, analgetik, vassodilator oral
Jwb: B
67. wanita 35 tahun, tungkai kanan bengkak sejak 2 thn lalu, tidak nyeri. diagnosa paling
mungkin?
A. deep vein thrombosis
B. Lipedema
C. Limfedema
D. Edema statis
E. Edema
Jwb: C
68. perempuan 18th, nyeri diujung kaki kiri sejak 5 hari yll, jari tsb tampak pucat dan dingin
dibanding kaki kanan. pulsasi hanya jelas teraba di inguinal tetapi lemah. sejak 1bln yll sakit
kepala terus menerus. TD di lengan kirikanan
sama, tetapi TD di tungkai kiri lebih lemah dr
yg lain.
diagnosis paling mungkin?
A. Arterioskelosis
B. Aterosklerosis obliterans
C. Tromboflebitis
D. Tromboangitis obliterans
E. Arteritis takayasu
Jwb: E
69. Apa tanda dan gejala terpenting dari Volkmann's ischemic:
A. Pallor
B. Coolness
C. Swelling
D. Numbness
E. Pain
Jwb: E
70. seorang gadis cantik datang ke praktek saudara mengharapkan tinggi badan bertambah
karena dia bercita2 jd pramugari. dr menyarankan / Rontgen daerah lutut. apa yg terutama
dilihat dari hasil Ro pd kasus diatas?
A. Periosteum
B. Epiphysis
C. Metaphysis
D. Epiphyseal plate
E. Perichondrium
Jwb: E
71. Laki2, 25th, kecelakaan lalu lintas (KLL) >
sepeda motor, dibawa ke dukun tulang.
1mgg kemudian dibawa ke UGD & trnyata mengalami patah tulang (Fx) terbuka 1/3 atas
tibia grade 3A. Tindakan?
A. pemberian antibiotik (AB) dan anti tetanus serum (ATS)
B. Dilakukan imobilisasi dgn plaster cast
C. dilakukan pemeriksaan kultur dan resistensi test kuman dr lukanya
D. Dilakukan debridement, fiksasi eksternal, AB yg sesuai
E. Amputasi kakinya
Jwb: D
U/ 3 soal berikut gunakan skenario dibawah ini
72. pada saat dilakukan pertolongan di UGD terhadap korban KLL, didapat primary survey:
A clear, B clear. Pada saat C, cairan apa yg sebaiknya diberikan pada pasien ini?
A. larutan D5%
B. larutan Hemasel
C. larutan NaCl 0,9% ?
D. larutan HES 5%
E. larutan RL
Jwb: E
73. bila dicurigai pd pasien ini mengalami obstruksi partial jalan napas yg disebabkan
pangkal lidah, pada pemeriksaan bunyi apa yg terdengar?
A. Snoring
B. Crowning
C. Gurgling
D. Wheezing
E. Grunting
Jwb: A
74. apakah pada pasien ini perlu dipasang nasopharyngeal airway?
A. Tidak, karena bukan trauma oromaxillofacial
hebat
B. Tidak, karena tidak ada gangguan koagulasi
C. Perlu, karena terjadi fx basis kranii
D. Perlu, karena terjadi fx os nasale
E. Perlu, karena akan dilakukan operasi didaerah hidung
Jwb: A
untuk soal2 dibawah gunakan skenario berikut:
seorang pengendara mobil mengalami KLL di jalan tol. Penderita mengalami trauma
multiple. Di UGD, primary survey stabil. saat secondary survey, saudara akan membuat foto
Ro pertama
75. Pemeriksaan Ro di daerah mana yg saudara usulkan?
A. Kepala, leher, toraks, pelvis
B. Daerah persendian dan ekstrimitas
C. Kepala dan leher
D. Toraks dan abdomen
E. Pelvis
Jwb: A
76. Jika pada pasien (px) ini ditemukan jejas pada kepala dan dada, tindakan airway
management apa yg boleh dilakukan?
A. Head tilt
B. Chin lift
C. Jaw thrust >
ACLS
D. Fleksi kepala
E. Ekstensi kepala
Jwb: C
77. tiba2 ada pasien mengalami henti jantung sehingga perlu dilakukan kompresi jantung luar
pada RJP, bila kompresi dilakukan dengan benar berapa tekanan darah yg dihasilkan?
A. 100/10 mmHg
B. 120/80 mmHg
C. 100/50 mmHg
D. 100/40 mmHg
E. 110/70 mmHg
Jwb: A
78. Berapa perbandingan kompresi jantung luar dan bantuan napas saat pasien belum
diintubasi, dengan 2 penolong?
A. 5:2
B. 5:1
C. 15:1
D. 15:2
E. Boleh tidak teratur
Jwb: D
79. Pasien ini perlu dilakukan intubasi. Berapa lama batas waktu prosedur pemasangan yg
paling baik?
A. Tidak lebih dari 30 detik
B. Sampai timbul sianosis
C. Sampai timbul bradikardi
D. Sampai penderita mulai bangun
E. Sama dengan lama kita menahan napas
Jwb: A
80. Bayi perempuan, 4 bulan. terdapat benjolan kebiruan di temporal kiri. Benjolan muncul
pd usia 1 minggu dan semakin membesar lambat. Bayi tampak tidak terganggu. Kadang
benjolan membesar saat pasien menangis. Saat ini diameter benjolan 4cm.
Apakah terapi yg paling sesuai?
A. Observasi
B. Eksisi massa
C. Ekstirpasi
D. Injeksi sklerosan
E. Injeksi kortikosteroid
Jwb: C
81. anak laki2, 5 tahun. jatuh dari sepeda 5 hari yll. terdapat luka sobek di lengan kirinya
ukuran 2x1 cm yg diobatinya dgn povidone iodine
termasuk penyembuhan luka mana pd kasus diatas?
A. Primary intention
B. Secondary intention
C. Tertiary intention
D. Delayed intention
E. Acute intention
Jwb: B
82. bayi baru lahir dgn labiognatopalatoschizis. Bayi sehat, BB 3500g. tidak ada kelainan
bawaan pd organ lain. Orang tua adlh pasangan yg sehat, tidak ada cacat bawaan, demikian
juga kakek & nenek dr kedua pihak.
apa yg paling mungkin menjadi faktor penyebab kelainan bawaan tersebut?
A. Trauma pada kehamilan trimester kedua
B. Faktor genetik
C. Kekurangan vitamin A dan E selama kehamilan
D. Kekurangan asam folat
E. terjadinya radiasi dari sinar X pada kehamilan muda ibunya
Jwb: E
u/ 4 soal dibawah gunakan skenario berikut:
83. Pria, 46th, ke UGD dgn keluhan muntah dan buang air besar berdarah sejak satu hari yll.
Kejadian itu diawali dgn nyeri mendadak pada ulu hati, muntah jg mengandung sisa
makanan, tetapi lebih banyak muntah seperti ter. riwayat nyeri ulu hati berulang sejak
setahun yll. biasanya nyeri dirasakan bbrp jam setelah makan
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Keadaam umum lemah, kedua tungkai teraba dingin. pada
pemeriksaan abdomen tidak terdapat nyeri tekan, nyeri lepas, maupun kekakuan otot. Perut
tidak kembung dan bising usus meningkat. Tidak ditemukan tanda2 gagal hati. TD 90/60
mmHg, Nadi 110x/mt lemah dan tidak teratur.
84. Mana diagnosis yg paling tepat u/ pasien ini?
A. Syok hemorhagik e.c. perdarahan varices esophagus akut
B. Syok hemorhagik e.c. perdarahan ulkus peptikum
C. Syok hemorhagik e.c. perdarahan varises fundus lambung akut
D. Syok hemorhagik e.c. perdarahan kanker lambung
E. Syok hemorhagik e.c. perdarahan vascular malformation
Jwb: B
85. Mana penanganan paling awal yg harus dilakukan pd pasien ini
A. Resusitasi cairan, pengawasan ketat tanda vital, >
pemberian obat maag
B. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, >
obat maag
C. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, AB broad spectrum,
laparotomy
D. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, pengawasan ketat thd
tanda2 vital, endoscopy
E. Resusitasi cairan, oksigenasi, pasang NGT, AB broad spectrum, bilas lambung
Jwb: E
86. Apakah cairan resusitasi yg paling tepat u/ pasien ini?
A. Packed Red Cell
B. Whole Blood
C. Larutan RL
D. Larutan HES
E. Larutan Normal Saline
87. Setelah pasien diresusitasi, tampak perbaikan hemodinamik. endoscopy GI tract atas
terlihat sumber perdarahan, tetapi gagal menghentikan perdarahan, dan dibutuhkan 750cc
darah u/ menjaga tekanan darah cukup selama 8 jam
Mana penanganan lanjut yg paling tepat?
A. Injeksi Adrenalin IV
B. Laparotomy Explorative u/ mengontrol perdarahan
C. Lebih banyak transfusi u/ menjaga Hb
D. Protonpump
inhibitor IV (omeprazole)
E. IV Pitressia drip
88. pria 55th, ke UGD dgn nyeri seluruh perut sejak 2 hari yll. nyeri dimulai di ulu hati
kemudian menyebar ke seluruh perut. Pasien tampak berkeringat dan lethargic. Nyeri tekan,
nyeri lepas, dan kram otot ditemukan. Perut tampak kembung dan bising usus menurun. Batas
paruhepar
menghilang, TD 100/60 mmHg, nadi 100x/mt, suhu 38C, punya riwayat nyeri ulu
hati berulang selama setahun ini. dia selalu makan aspirin u/ keluhan nyeri kepalanya
mana yg merupakan penyebab paling sering penyakit ini?
A. Primary peritonitis
B. Secondary peritonitis
C. Tertiary peritonitis
D. Faecal peritonitis
E. Foreign body peritonitis
U/ 3 soal berikut gunakan skenario ini
anak 2 bln >
ke UGD, perut kembung, muntah, tidak buang air besar sejak 4hr yll. Ada
riwayat diare menyemprot. Pada pemeriksaan ditemukan pergerakan meconium yg lambat
dan obstipasi berulang
89. Mana diagnosis yg paling tepat?
A. Intussuception
B. Diare akut
C. Enterocolitis
D. Hirschprung's disease
E. Ulcerative colitis
90. mana penanganan thd pasien yg paling tepat?
A. NGT dapat mengurangi distensi abdomen
B. Rectal biopsy harus dilakukan secepatnya u/ diagnosis pasti
C. Pemeriksaan yg paling akurat u/ diagnosis pasti adl CTscan abdomen
D. Abdominal Xray
dan barium enema harus dilakukan setelah kondisi akut ditangani
E. Rectal biopsy dapat dilakukan pada keadaan akut
91. Mana tindakan penanganan yg paling tepat?
A. rectal biopsy, plain Xray,
Barium enema, NGT insertion, resusitasi cairan dan warmed
saline enema
B. NGT & resusitasi cairan, AB, diikuti warmed saline enema, Rectal biopsy dan Ba enema
C. Rectal biopsy, resusitasi cairan dan warmed saline enema, Foto polos abdomen, Ba enema,
NGT
D. NGT dan resusitasi cairan, Rectal biopsy, barium enema, Foto polos abdomen, warmed
saline enema
E. Rectal biopsy, NGT, resusitasi cairan, warmed saline enema, foto polos abdomen, Ba
enema
u/ 2 soal, gunakan skenario berikut
bayi perempuan 9 bln >
UGD, sering buang air besar berdarah dan berlendir. Sehari
sebelumnya bayi tampak gelisah dan menangis melengking, hal ini terjadi berulang2. Tidak
ada demam sebelumnya, pada pemeriksaan ditemukan massa di epigastrium dan tidak ada
portiolike
appearance pada colok dubur
92. mana diagnosis paling tepat?
A. Disentri amuba
B. Intussuception
C. Haemorrhoid
D. Ulcerative colitis
E. Perforated Meckel's diverticulum
93. Mana yg paling mengarahkan diagnosis?
A. buang air besar berdarah dan colok dubur
B. Intussuception triad
C. Nyeri kolik dan colok dubur
D. BAB berdarah tanpa demam
E. Masa teraba tanpa portiolike
appearance
skenario u/ 2 soal berikut
wanita 30 th >
UGD, penurunan kesadaran 3 jam setelah tabrakan bermotor kecepatan
tinggi. saat masuk UGD RR 25x/mt, TD 120/70 mmHg, HR 98x/mt. Penderita masih
membuka mata dgn rangsangan nyeri dan dapat melokalisasi nyeri yg diberikan tetapi tidak
dapat mengeluarkan suara
94. apa tindakan saudara pertama kali?
A. melakukan pemeriksaan foto kepala u/ mencari adanya fraktur
B. melakukan CTscan
kepala
C. menjamin airway (intubasi) dgn kontrol cervical
D. melakukan resusitasi cairan
E. Pemeriksaan thd adanya trauma ditempat lain
95. Setelah kondisi pasien stabil, pemeriksaan fisik menemukan adanya hematom di parietal
kiri, laserasi pada dada kanan dan abdomen
pemeriksaan pendukung apa yg dilakukan?
A. foto polos kepala, cervical, thorax, abdomen
B. CT scan kepala, foto cervical, thorax, pelvis
C. CT scan kepala, foto thorax, pelvis
D. Foto kepala AP dan lateral, cervical, thorax, pelvis
E. CT scan kepala, cervical, thorax, foto pelvis, USG abdomen
96. laki2 27th >
UGD krn KLL. penderita melakukan gerakan menarik angg badan dila
dirangsang, suara tidak jelas, dan tidak dapat membuka mata biarpun dirangsang. berapa
GCS?
A. 8
B. 9
C. 6
D. 7
E. 5
97. wanita 65 tahun >
terpeleset di kamar mandi dia menahan tubuh dengan tangan kanan.
kemudian dia merasa nyeri di pergelangan tangan kanan. sendi tangan tampak seperti garpu
manakah tulang yg mungkin patah?
A. metacarpal I
B. Radius
C. Ulna
D. Humerus
E. Clavicula
98. pria 35th, dirujuk ke klinik mata dari klinik endokrin. dia menderita DM sejak 10th yll,
kadar gula darah normal. pemeriksaan visus maupun luar mata normal. funduskopi: media
jernih, papil normal, retina datar, tidak ada neovascularization, dot haemorrhages (+), hard
exudates (+), macula edema (),
foveal reflex normal
apa diagnosis paling mungkin?
A. proliferative diabetic retinopathy
B. nonproliferative diabetic retinopathy
C. Central retinal vein occlution
D. Central retinal artery ocllution
E. Retinal detachment
99. anak 9th >
klinik mata, mata gatal, blepharospasme, fotofobia, sekret mata yg copious
mucoid, visus (N), slit lamp >
cobblestone pada palpebra superior
penatalaksanaan?
A. antibiotik topikal
B. antimetabolik topikal
C. acyclovir topikal
D. antihistamin topikal
E. Topical artificial tears
skenario 2 soal:
pria 35th, mata gatal, merah, sekret sperti susu pada konjungtiva. slit lamp >
pappilla di
konjungtiva tarsal superior dan inferior. riwayat keluarga dgn penyakit atopik
100. diagnosis?
A. vernal conjunctivitis
B. Atopic conjunctivitis
C. Acute conjunctivitis
D. Flictenularis conjunctivitis
E. Follicle conjunctivitis
101. reaksi hipersensitif mana pada kasus diatas?
A. type I
B. II
C. II
D. IV
E. I & IV
skenario 2 soal dibawah:
102. wanita 40th, penurunan penglihatan sejak 3hr yll disertai nyeri, mata merah berair.
didiagnosis dr.umum sebagai pasien TBC. pemeriksaan >
injeksi siliar, flare bilik mata
depan (+), keratic presipitat (+)
37. diagnosis?
A. uveitis akut
B. Vitritis
C. Choroiditis
D. Endophtalmitis
E. Pars planitis
103. terapi
A. kortikosteroid dan sikloplegic (kort. u/ reaksi radangnya (cuz etiologi blm jelas bgt),
sikloplegia u/ mencegah sikatrik)
B. beta bloker topikal
C. antihistamine topikal
D. Topical mast cell stabilizer
E. Antibiotik topical
skenario 2 soal:
104. pria 50th, mata merah, nyeri, keluar air mata. pada pemeriksaan ditemukan ulkus kornea
periferal
39. diagnosis?
A. Bacterial ulcer
B. Herpetic ulcer ?
C. Geographican ulcer
D. Fungal ulcer
E. Mooren's ulcer
105. terapi utama?
A. AB oral
B. antifungal
C. kortikosteroid topikal
D. Antihistamine
E. AB topikal
skenario 2 soal:
106. pria 55th, >
klinik mata, mata kiri kabur. pemeriksaan VOS 3/60 konjungtiva tenang,
kornea jernih, COA sedang, pupil bulat rx (+), lensa jernih, TIO 15 mmHg, funduscopy
Cup/Disc ratio 0,9, gonioskopi >
sudut terbuka
41. pemeriksaan apa lagi yg saudara lakukan?
A. Retinometer
B. Octopus perimetry
C. Streak retinoscopy
D. USG
E. Refractometry
107. diagnosa paling mungkin?
A. Glaukoma sudut tertutup primer
B. Glaukoma sudut terbuka primer
C. Glaukoma sudut terbuka sekunder
D. Glaukoma sudut tertutup sekunder
E. Serangan glaukoma akut
skenario 2 soal
pria 70th >
klinik 24jam, keluhan penurunan pendengaran pada telinga kiri sejak 6 bulan
yll. anda melakukan pemeriksaan audiometrik
108. u/ mengetahui derajat gangguan dengar anda melakukan
A. tes Rinne
B. tes Webber
C. tes Swabach
D. tes tone decay
E. tes BERA
109. setelah melakukan tes weber ternyata suara lebih keras pada telinga kiri, apa artinya
A. telinga kanan >
tuli konduktif
B. telinga kiri >
tuli konduktif
C. telinga kanan >
tuli sensorineural
D. telinga kiri >
tuli sensorineural
E. kedua telinga tuli konduktif
110. anak 3 tahun diantar ibunya krn belum bisa komunikasi
mana hal berikut yg menunjukkan dampak pada anak?
A. ketulian memberi hal yg sangat bermakna pd anak usia sekolah (69th)
B. ketulian mempengaruhi 'educational performance' dan perkembangan sosial
C. ketulian pd anak memberi dampak yg sama spt ketulian pd dewasa
D. ketulian pd usia dini (03)
tidak mempengaruhi perkembangan bicara
E. ketulian pd usia skolah (69)
mempengaruhi perkembangan bicara
111. anak laki2 5th >
poliklinik, otore telinga kiri sejak 3hr yll. diawali dgn infeksi saluran
napas atas. kesadaran CM, febris (39), membran timpani bulging dgn supurasi telinga tengah
diagnosis?
A. Miringitis bulosa
B. Otitis media supuratif kronik
C. Mastoiditis akut
D. Otitis media akut
E. Mastoiditis kronis
skenario 2 soal
bayi perempuan 8bln, >
UGD sesak napas sejak 3hr yll, stridor saat inspirasi dan retraksi
ringan di suprasternal. sesak berkurang bila penderita tidur miring atau memakai bantal. tidak
ada febris, tidak disertai gangguan makan/minum. pemeriksaan radiologis soft tissue leher
memperlihatkan penyempitan di daerah laring. keluhan seperti ini dirasakan sejak 2 bulan yll
tetapi sembuh sendiri
Dx: LARYNGOMALACIA
112. pemeriksaan penunjang?
A. nasoendoskopi
B. Rhinoskopi posterior
C. Rontgen thorax AP dan Lat
D. Laringoskopi >
OMEGA SHAPED EPIGLOTTIS
E. Esofagoskopi
113. pada anak, apakah upaya preventif penyakit diatas? GA ADA LAH, KONGENITAL
GITU LOWH..CUMA HINDARI ISPA, JGN TIDUR TERLENTANG, JGN NANGIS
(GMN CARA MENCEGAH ANAK KCIL NANGIS COBA???)
A. kortikosteroid dosis rendah jangka menengah
B. Vaksinasi Haemophillus influenza tipe B
C. Oksigenasi yg adekuat
D. AB dosis rendah jangka lama
E. hindari makanan dan minuman dingin dan es
114. anak perempuan 9th, dtg dgn hidung tersumbat sejak 2bln yll. keluhan terutama pada
pagi hari disertai bersin dan sekret hidung yg tertelan. rinoskopi anterior >
mukosa dan
konka hidung yg livide dan sekret yg serous.
apa pengobatan rasional?
A. membiasakan pasien kontak dgn alergen dari konsentrasi rendah
B. meningkatkan kebugaran jasmani dgn olahraga 1x/mgg
C. obat H1receptor
antagonist
D. dekongestan topikal selama 2 mgg
E. mengupayakan pengobatan yg mampu menekan gejala pada fase cepat maupun lambat
115. anak laki2 8th >
poliklinik, keluhan tidur mengorok sejak setahun yll hilang timbul.
pem.fisik >
pembesaran tonsil dgn tonsil tidak hiperemis, kripta melebar, dan detritus
PF mana yg memperlihatkan adanya tonsilitis kronis?
A. Pembesaran tonsil
B. tidak hiperemis
C. detritus minimal
D. tidur mengorok
E. kripta melebar
116. wanita 29th >
poli tht timbul benjolan di pipi kiri sejak 3th yll, nyeri tekan (),
diameter 5cm, dan mendorong daun telinga keatas. tidak ada tanda2 paralisis N VII, kulit
tampak normal. diagnosis?
A. tumor ganas kelenjar parotis
B. tumor jinak parotis
C. Sialoadenitis
D. TBC pada kelenjar parotis
E. Hemangioma di kelenjar parotis
117. anak perempuan 5th >
nyeri pada telinga kiri. 2mgg sebelumnya menurut ibunya,
anaknya pernah ke poli THT dgn keluhan otitis media akut supuratif bilateral tetapi sudah
sembuh. Ditemukan kolesteatoma pada telinga kiri. pasien ini direncanakan u/ operasi
pengangkatan kolesteatoma.
Apa tujuan dilakukan operasi?
A. perbaikan pendengaran
B. menjaga penurunan pendengaran
C. mengangkat seluruh jaringan patologis
D. mempertahankan keutuhan dinding posterior canal
E. rekonstruksi dari membran timpani
118. Seorang wanita, 32 tahun, G2P1A0, hamil 12 minggu.
Hb 10, mcv dan MCHC normal
a. tidak perlu diberi apa2
b. Br Fe 100 mg/hari >
masih mual (12minggu)
c. Kadar ferritin diperiksa
d. Beri Vit C
e. Nasehat makanan mengandung besi
119. Seorang wanita, 25 tahun mengeluh diperkosa 5 hari
yl. 2 hari kemudian Polisi minta VeR, sikap dokter
a. VeR berdasarkan rekam medis sebelumnya
b. Laporan medis berdasarkan rekam medis sebelumnya
c. Meminta Polisi membawa pasien kembali
d. VeR berdasarkan rekam medis sesuai tanggal
pemeriksaan
e. Menolak VeR
120. Jika pada pasien itu tidak dijumpai luka, selaput
dara berwarna merah, berarti
a. 5 hari yl benar diperkosa
b. Tidak benar diperkosa
c. Dibuat pingsan dulu baru diperkosa
d. Trauma selaput dara
e. Bersetubuh
121. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami
gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada
pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tandatanda
abnormalitas. Hasil
pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, m3. Apus darah tepi
hematokrit = 28 %, dan MCV 94 eritrosit normositermmenunjukkan selsel
dan
normokromik. Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab
kondisi pasien tersebut ?
A) Perdarahan akut
B) Leukemia limfositik kronik
C) Anemia Sideroblast
D) Defisiensi erythropoietin
E) Defisiensi enzim eritrosit
jwb: D
122. Seorang lakilaki
berusia 30 tahun yang sebelumnya dalam keadaan sehat, menderita
demam dan pruritus, berkeringat malam, serta menemukan benjolan di atas klavikula sinistra
selama tiga minggu. Pemeriksaan fisik menunjukkan pembesaran nodus lymphatikus yang
tidak nyeri, berdiameter 3 cm, berkonsistensi kenyal dan berlokasi di regio supraklavikula.
Pemeriksaan sinar X thoraks memberi kesan adanya limfoadenopati
mediastinal. Manakah
jawaban yang paling tepat di bawah ini yang merupakan penyebab penyakit pada pasien
tersebut?
A) Tuberkulosis
B) Karsinoma metastatik
C) Penyakit Hodgkin
D) Sarkoidosis
E) Mononukleosis infeksiosa
jwb: C
123. Seorang anak lakilaki
berusia 8 digigit oleh seekor lebah. Dalam lima menit terlihat lesi
yang membengkak, berukuran 2 cm, dan berwarna merah di tempat gigitan tersebut. Di
antara jawaban berikut, temuan manakah yang dominan pada lesi gigitan tersebut ?
A) Reaksi terhadap korpus alienum
B) Perdarahan
C) Infiltrasi limfositik
D) Migrasi neutrofilik
E) Vasodilatasi
jwb: E
124. Seorang lakilaki
berusia 80 tahun menderita sebuah karsinoma ulseratif pada kulit
skrotum dextra. Grup kelenjar manakah di bawah ini yang pertama kali akan menerima selsel
metastatik dari karsinoma tersebut ?
A) Iliaka eksterna
B) Iliaka Interna
C) Inguinal superfisialis
D) Inguinal profunda
E) Lumbar (paraaorta)
Jwb: C
125. Seorang anak perempuan berusia 4 tahun tidak dapat makan selama dua hari karena
penyakit gastrointestinal.
Dari jawaban di bawah ini, manakah yang menjadi sumber utama
energi yang akan dioksidasi pada otot rangka penderita tersebut ?
A) Kreatin Fosfat otot
B) Glikogen otot
C) Trigliserida otot
D) Asam lemak serum
E) Glukosa serum
Jwb: B
126. Seorang lakilaki
berusia 35 tahun mengalami luka bakar pada seluruh ketebalan kulit
pada daerah dorsum manus. Sebuah flap rotasi dari kulit normal dan jaringan subkutaneus
dibuat untuk menutupi defek tersebut. Dari jawaban di bawah ini, pada lapisan manakah
pembuluh darah arterial yang akan memberikan vaskularisasi pada flap tersebut ?
A) Stratum Basale
B) Dermis bagian dalam
C) Stratum corneum
D) Stratum lucidum
E) Lemak subkutan
Jwb: E
127. Seorang lakilaki
berusia 24 tahun dirujuk ke unit gawat darurat rumah sakit setelah
tertusuk benda tajam di thoraks anterior pada sisi medial papilla mamae sinistra. Pada saat
tiba, diketahui tekanan darah = 70/50 mmHg. Venavena
leher tampak melebar.Suara
pernafasan vesikuler normal pada kedua paru. Dari pilihan jawaban di bawah ini, step
pengelolaan berikutnya yang paling tepat adalah:
A) Foto Sinar X Thoraks
B) Intubasi endotracheal
C) EKG
D) Insersi tabung pada cavum thoraks sebelah kiri.
E) Perikardiosentesis
Jwb: A
128. Seorang perempuan berusia 22 tahun berobat ke dokter 3 bulan setelah menemukan
sebuah benjolan pada kuadran lateral bawah mammae dextra. Pemeriksaan fisik
menunjukkan massa berdiameter 2 cm, berbentuk oval, padat, halus, dan mobil pada mamae
tersebut. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening axilla. Jika biopsi eksisi di
lakukan pada benjolan tersebut, maka kemungkinan besar akan menunjukkan tandatanda
penyakit:
A) Nekrosis lemak
B) Fibroadenoma
C) Kelainan fibrokistik mammae
D) Karsinoma intraduktal
E) Papilloma intraduktal
Jwb: B
129. Seorang wanita berusia 54 tahun dibawa ke unit gawat darurat oleh keluarganya karena
baal dan lemah pada tangan kiri dan kedua kakinya selama 2 jam. Dia memiliki riwayat
tekanan darah tinggi dan penggunaan alkohol serta merokok sebanyak 2 bungkus rokok
setiap hari selama 30 tahun. Rasa pada tangan kiri dan kedua kaki menurun dan kekuatan otot
adalah 0/5. Terdengar bruit pada arteri karotid kanan.
Manakah dari pemeriksaan di bawah ini yang paling tepat untuk penegakan diagnosis awal?
A) Electroencephalography
B) Carotid duplex scan
C) CT scan kepala
D) Echocardiography
E) Carotid angiography
Jwb: C
130. Satu hari setelah perbaikan terhadap ruptur aneurisma aorta yang dilakukan dalam
keadaan emergensi, seorang pria berusia 66 tahun menghasilkan urine sebanyak 35 mL
selama perioda 4 jam, sebuah kateter foley masih terpasang. Dia menerima 14 unit darah
selama operasi. Suhu C (100 F), tubuhnya 37.8°tekanan darah 104/68 mmHg, dan nadi
126x/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya edema perifer yang luas. Suara jantung
normal. Pada pemeriksaan dengan auskultasi suara paru terdengar bersih. Perut teraba lunak.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hematocrit 27%, Serum Na+ 143 mEq/L, K+
5.0 mEq/L, Urine Na+ 6 mEq/L. Manakah dari pernyataan di bawah ini yang merupakan
penyebab oliguria yang paling tepat untuk pasien tersebut?
A) Gagal jantung
B) Hypovolemia
C) Occluded Foley catheter
D) Renal artery thrombosis
E) Transfusion reaction
Jwb: B
131. Pria, 38 th, 2 mgg ini merasakan kaki kirinya terasa sangat nyeri saat tidur. sebenarnya
dirasa sakit sejak 1 tahun belakangan, namun hanya dirasakan bila berjalan. Penderita
mengeluh jarak tempuh makin lama makin pendek dan sering berhenti karena nyeri. Bila
istirahat nyeri hilang. Penderita seorang perokok berat. PF secara umum normal, pada eks.
inf. sinistra tidak teraba pulsasi a. dorsalis pedis dan tibialis posterior. pemeriksaan lab
normal.
Manakah diagnosis yg paling mungkin?
A. Acute arterial occlusion >
tdk mgkn akut sdh 1 thn
B. Thromboangitis obliterans
C. Diabetic arteriopathy
D. Chronic arterial thrombosis
E. atherosclerotic peripheral arterial occlusive disease
Jwb: B
132. pria, 31 th, menderita Buerger's disease. mengeluh ujung kelingking kaki kanannya
kehitaman dan bau. juga dirasakan sangat nyeri. PF umum normal, status lokalis: tampak
gangren kering pd ujung digiti V pedis dex. Lab: Hb 13,1 Leu 12.100 lab lain normal
Tindakan pd pasien:
A. Nekrotomi & debridement, kemudian disiapkan u/ amputasi elektif
B. Nekrotomi & debridement, kemudian diberi analgetik, antibiotik, & vasodilator oral
C. insisi & drainase, >
analgetik, antibiotik, vasodilator oral
D. tidak nekrotomi & debridement >
tapi analgetik, antibiotik, vasodilator oral ?
E. amputasi dgn anestesi lokal >
antibiotik, analgetik, vassodilator oral
Jwb: B
133. wanita 35 tahun, tungkai kanan bengkak sejak 2 thn lalu, tidak nyeri. diagnosa paling
mungkin?
A. deep vein thrombosis
B. Lipedema
C. Limfedema
D. Edema statis
E. Edema
Jwb: C
134. perempuan 18th, nyeri diujung kaki kiri sejak 5 hari yll, jari tsb tampak pucat dan dingin
dibanding kaki kanan. pulsasi hanya jelas teraba di inguinal tetapi lemah. sejak 1bln yll sakit
kepala terus menerus. TD di lengan kirikanan
sama, tetapi TD di tungkai kiri lebih lemah dr
yg lain.
diagnosis paling mungkin?
A. Arterioskelosis
B. Aterosklerosis obliterans
C. Tromboflebitis
D. Tromboangitis obliterans
E. Arteritis takayasu
Jwb: E
135. Apa tanda dan gejala terpenting dari Volkmann's ischemic:
A. Pallor
B. Coolness
C. Swelling
D. Numbness
E. Pain
Jwb: E
137. seorang gadis cantik datang ke praktek saudara mengharapkan tinggi badan bertambah
karena dia bercita2 jd pramugari. dr menyarankan / Rontgen daerah lutut. apa yg terutama
dilihat dari hasil Ro pd kasus diatas?
A. Periosteum
B. Epiphysis
C. Metaphysis
D. Epiphyseal plate
E. Perichondrium
Jwb: E
138. Laki2, 25th, kecelakaan lalu lintas (KLL) >
sepeda motor, dibawa ke dukun tulang.
1mgg kemudian dibawa ke UGD & trnyata mengalami patah tulang (Fx) terbuka 1/3 atas
tibia grade 3A. Tindakan?
A. pemberian antibiotik (AB) dan anti tetanus serum (ATS)
B. Dilakukan imobilisasi dgn plaster cast
C. dilakukan pemeriksaan kultur dan resistensi test kuman dr lukanya
D. Dilakukan debridement, fiksasi eksternal, AB yg sesuai
E. Amputasi kakinya
Jwb: D
U/ 3 soal berikut gunakan skenario dibawah ini
139. pada saat dilakukan pertolongan di UGD terhadap korban KLL, didapat primary survey:
A clear, B clear. Pada saat C, cairan apa yg sebaiknya diberikan pada pasien ini?
A. larutan D5%
B. larutan Hemasel
C. larutan NaCl 0,9% ?
D. larutan HES 5%
E. larutan RL
Jwb: E
140. bila dicurigai pd pasien ini mengalami obstruksi partial jalan napas yg disebabkan
pangkal lidah, pada pemeriksaan bunyi apa yg terdengar?
A. Snoring
B. Crowning
C. Gurgling
D. Wheezing
E. Grunting
Jwb: A
141. apakah pada pasien ini perlu dipasang nasopharyngeal airway?
A. Tidak, karena bukan trauma oromaxillofacial
hebat
B. Tidak, karena tidak ada gangguan koagulasi
C. Perlu, karena terjadi fx basis kranii
D. Perlu, karena terjadi fx os nasale
E. Perlu, karena akan dilakukan operasi didaerah hidung
Jwb: A
untuk soal2 dibawah gunakan skenario berikut:
seorang pengendara mobil mengalami KLL di jalan tol. Penderita mengalami trauma
multiple. Di UGD, primary survey stabil. saat secondary survey, saudara akan membuat foto
Ro pertama
142. Pemeriksaan Ro di daerah mana yg saudara usulkan?
A. Kepala, leher, toraks, pelvis
B. Daerah persendian dan ekstrimitas
C. Kepala dan leher
D. Toraks dan abdomen
E. Pelvis
Jwb: A
143. Jika pada pasien (px) ini ditemukan jejas pada kepala dan dada, tindakan airway
management apa yg boleh dilakukan?
A. Head tilt
B. Chin lift
C. Jaw thrust >
ACLS
D. Fleksi kepala
E. Ekstensi kepala
Jwb: C
144. tiba2 ada pasien mengalami henti jantung sehingga perlu dilakukan kompresi jantung
luar pada RJP, bila kompresi dilakukan dengan benar berapa tekanan darah yg dihasilkan?
A. 100/10 mmHg
B. 120/80 mmHg
C. 100/50 mmHg
D. 100/40 mmHg
E. 110/70 mmHg
Jwb: A
145. Berapa perbandingan kompresi jantung luar dan bantuan napas saat pasien belum
diintubasi, dengan 2 penolong?
A. 5:2
B. 5:1
C. 15:1
D. 15:2
E. Boleh tidak teratur
Jwb: D
146. Pasien ini perlu dilakukan intubasi. Berapa lama batas waktu prosedur pemasangan yg
paling baik?
A. Tidak lebih dari 30 detik
B. Sampai timbul sianosis
C. Sampai timbul bradikardi
D. Sampai penderita mulai bangun
E. Sama dengan lama kita menahan napas
Jwb: A
147. Bayi perempuan, 4 bulan. terdapat benjolan kebiruan di temporal kiri. Benjolan muncul
pd usia 1 minggu dan semakin membesar lambat. Bayi tampak tidak terganggu. Kadang
benjolan membesar saat pasien menangis. Saat ini diameter benjolan 4cm.
Apakah terapi yg paling sesuai?
A. Observasi
B. Eksisi massa
C. Ekstirpasi
D. Injeksi sklerosan
E. Injeksi kortikosteroid
Jwb: C
148. anak laki2, 5 tahun. jatuh dari sepeda 5 hari yll. terdapat luka sobek di lengan kirinya
ukuran 2x1 cm yg diobatinya dgn povidone iodine
termasuk penyembuhan luka mana pd kasus diatas?
A. Primary intention
B. Secondary intention
C. Tertiary intention
D. Delayed intention
E. Acute intention
Jwb: B
149. bayi baru lahir dgn labiognatopalatoschizis. Bayi sehat, BB 3500g. tidak ada kelainan
bawaan pd organ lain. Orang tua adlh pasangan yg sehat, tidak ada cacat bawaan, demikian
juga kakek & nenek dr kedua pihak.
apa yg paling mungkin menjadi faktor penyebab kelainan bawaan tersebut?
A. Trauma pada kehamilan trimester kedua
B. Faktor genetik
C. Kekurangan vitamin A dan E selama kehamilan
D. Kekurangan asam folat
E. terjadinya radiasi dari sinar X pada kehamilan muda ibunya
Jwb: E
u/ 4 soal dibawah gunakan skenario berikut:
Pria, 46th, ke UGD dgn keluhan muntah dan buang air besar berdarah sejak satu hari yll.
Kejadian itu diawali dgn nyeri mendadak pada ulu hati, muntah jg mengandung sisa
makanan, tetapi lebih banyak muntah seperti ter. riwayat nyeri ulu hati berulang sejak
setahun yll. biasanya nyeri dirasakan bbrp jam setelah makan
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Keadaam umum lemah, kedua tungkai teraba dingin. pada
pemeriksaan abdomen tidak terdapat nyeri tekan, nyeri lepas, maupun kekakuan otot. Perut
tidak kembung dan bising usus meningkat. Tidak ditemukan tanda2 gagal hati. TD 90/60
mmHg, Nadi 110x/mt lemah dan tidak teratur.
150. Mana diagnosis yg paling tepat u/ pasien ini?
A. Syok hemorhagik e.c. perdarahan varices esophagus akut
B. Syok hemorhagik e.c. perdarahan ulkus peptikum
C. Syok hemorhagik e.c. perdarahan varises fundus lambung akut
D. Syok hemorhagik e.c. perdarahan kanker lambung
E. Syok hemorhagik e.c. perdarahan vascular malformation
Jwb: B
151. Mana penanganan paling awal yg harus dilakukan pd pasien ini
A. Resusitasi cairan, pengawasan ketat tanda vital, >
pemberian obat maag
B. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, >
obat maag
C. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, AB broad spectrum,
laparotomy
D. Resusitasi cairan dan transfusi darah, oksigenasi, pasang NGT, pengawasan ketat thd
tanda2 vital, endoscopy
E. Resusitasi cairan, oksigenasi, pasang NGT, AB broad spectrum, bilas lambung
Jwb: E
152. Apakah cairan resusitasi yg paling tepat u/ pasien ini?
A. Packed Red Cell
B. Whole Blood
C. Larutan RL
D. Larutan HES
E. Larutan Normal Saline
153. Setelah pasien diresusitasi, tampak perbaikan hemodinamik. endoscopy GI tract atas
terlihat sumber perdarahan, tetapi gagal menghentikan perdarahan, dan dibutuhkan 750cc
darah u/ menjaga tekanan darah cukup selama 8 jam
Mana penanganan lanjut yg paling tepat?
A. Injeksi Adrenalin IV
B. Laparotomy Explorative u/ mengontrol perdarahan
C. Lebih banyak transfusi u/ menjaga Hb
D. Protonpump
inhibitor IV (omeprazole)
E. IV Pitressia drip
154. pria 55th, ke UGD dgn nyeri seluruh perut sejak 2 hari yll. nyeri dimulai di ulu hati
kemudian menyebar ke seluruh perut. Pasien tampak berkeringat dan lethargic. Nyeri tekan,
nyeri lepas, dan kram otot ditemukan. Perut tampak kembung dan bising usus menurun. Batas
paruhepar
menghilang, TD 100/60 mmHg, nadi 100x/mt, suhu 38C, punya riwayat nyeri ulu
hati berulang selama setahun ini. dia selalu makan aspirin u/ keluhan nyeri kepalanya
mana yg merupakan penyebab paling sering penyakit ini?
A. Primary peritonitis
B. Secondary peritonitis
C. Tertiary peritonitis
D. Faecal peritonitis
E. Foreign body peritonitis
U/ 3 soal berikut gunakan skenario ini
anak 2 bln >
ke UGD, perut kembung, muntah, tidak buang air besar sejak 4hr yll. Ada
riwayat diare menyemprot. Pada pemeriksaan ditemukan pergerakan meconium yg lambat
dan obstipasi berulang
155. Mana diagnosis yg paling tepat?
A. Intussuception
B. Diare akut
C. Enterocolitis
D. Hirschprung's disease
E. Ulcerative colitis
156. mana penanganan thd pasien yg paling tepat?
A. NGT dapat mengurangi distensi abdomen
B. Rectal biopsy harus dilakukan secepatnya u/ diagnosis pasti
C. Pemeriksaan yg paling akurat u/ diagnosis pasti adl CTscan abdomen
D. Abdominal Xray
dan barium enema harus dilakukan setelah kondisi akut ditangani
E. Rectal biopsy dapat dilakukan pada keadaan akut
157. Mana tindakan penanganan yg paling tepat?
A. rectal biopsy, plain Xray,
Barium enema, NGT insertion, resusitasi cairan dan warmed
saline enema
B. NGT & resusitasi cairan, AB, diikuti warmed saline enema, Rectal biopsy dan Ba enema
C. Rectal biopsy, resusitasi cairan dan warmed saline enema, Foto polos abdomen, Ba enema,
NGT
D. NGT dan resusitasi cairan, Rectal biopsy, barium enema, Foto polos abdomen, warmed
saline enema
E. Rectal biopsy, NGT, resusitasi cairan, warmed saline enema, foto polos abdomen, Ba
enema
u/ 2 soal, gunakan skenario berikut
bayi perempuan 9 bln >
UGD, sering buang air besar berdarah dan berlendir. Sehari
sebelumnya bayi tampak gelisah dan menangis melengking, hal ini terjadi berulang2. Tidak
ada demam sebelumnya, pada pemeriksaan ditemukan massa di epigastrium dan tidak ada
portiolike
appearance pada colok dubur
158. mana diagnosis paling tepat?
A. Disentri amuba
B. Intussuception
C. Haemorrhoid
D. Ulcerative colitis
E. Perforated Meckel's diverticulum
159. Mana yg paling mengarahkan diagnosis?
A. buang air besar berdarah dan colok dubur
B. Intussuception triad
C. Nyeri kolik dan colok dubur
D. BAB berdarah tanpa demam
E. Masa teraba tanpa portiolike
appearance
skenario u/ 2 soal berikut
wanita 30 th >
UGD, penurunan kesadaran 3 jam setelah tabrakan bermotor kecepatan
tinggi. saat masuk UGD RR 25x/mt, TD 120/70 mmHg, HR 98x/mt. Penderita masih
membuka mata dgn rangsangan nyeri dan dapat melokalisasi nyeri yg diberikan tetapi tidak
dapat mengeluarkan suara
160. apa tindakan saudara pertama kali?
A. melakukan pemeriksaan foto kepala u/ mencari adanya fraktur
B. melakukan CTscan
kepala
C. menjamin airway (intubasi) dgn kontrol cervical
D. melakukan resusitasi cairan
E. Pemeriksaan thd adanya trauma ditempat lain
161. Setelah kondisi pasien stabil, pemeriksaan fisik menemukan adanya hematom di parietal
kiri, laserasi pada dada kanan dan abdomen
pemeriksaan pendukung apa yg dilakukan?
A. foto polos kepala, cervical, thorax, abdomen
B. CT scan kepala, foto cervical, thorax, pelvis
C. CT scan kepala, foto thorax, pelvis
D. Foto kepala AP dan lateral, cervical, thorax, pelvis
E. CT scan kepala, cervical, thorax, foto pelvis, USG abdomen
162. laki2 27th >
UGD krn KLL. penderita melakukan gerakan menarik angg badan dila
dirangsang, suara tidak jelas, dan tidak dapat membuka mata biarpun dirangsang. berapa
GCS?
A. 8
B. 9
C. 6
D. 7
E. 5
163. wanita 65 tahun >
terpeleset di kamar mandi dia menahan tubuh dengan tangan kanan.
kemudian dia merasa nyeri di pergelangan tangan kanan. sendi tangan tampak seperti garpu
manakah tulang yg mungkin patah?
A. metacarpal I
B. Radius
C. Ulna
D. Humerus
E. Clavicula
164. pria 35th, dirujuk ke klinik mata dari klinik endokrin. dia menderita DM sejak 10th yll,
kadar gula darah normal. pemeriksaan visus maupun luar mata normal. funduskopi: media
jernih, papil normal, retina datar, tidak ada neovascularization, dot haemorrhages (+), hard
exudates (+), macula edema (),
foveal reflex normal
apa diagnosis paling mungkin?
A. proliferative diabetic retinopathy
B. nonproliferative diabetic retinopathy
C. Central retinal vein occlution
D. Central retinal artery ocllution
E. Retinal detachment
165. anak 9th >
klinik mata, mata gatal, blepharospasme, fotofobia, sekret mata yg copious
mucoid, visus (N), slit lamp >
cobblestone pada palpebra superior
penatalaksanaan?
A. antibiotik topikal
B. antimetabolik topikal
C. acyclovir topikal
D. antihistamin topikal
E. Topical artificial tears
skenario 2 soal:
pria 35th, mata gatal, merah, sekret sperti susu pada konjungtiva. slit lamp >
pappilla di
konjungtiva tarsal superior dan inferior. riwayat keluarga dgn penyakit atopik
166. diagnosis?
A. vernal conjunctivitis
B. Atopic conjunctivitis
C. Acute conjunctivitis
D. Flictenularis conjunctivitis
E. Follicle conjunctivitis
167. reaksi hipersensitif mana pada kasus diatas?
A. type I
B. II
C. II
D. IV
E. I & IV
skenario 2 soal dibawah:
wanita 40th, penurunan penglihatan sejak 3hr yll disertai nyeri, mata merah berair.
didiagnosis dr.umum sebagai pasien TBC. pemeriksaan >
injeksi siliar, flare bilik mata
depan (+), keratic presipitat (+)
168. diagnosis?
A. uveitis akut
B. Vitritis
C. Choroiditis
D. Endophtalmitis
E. Pars planitis
169. terapi
A. kortikosteroid dan sikloplegic (kort. u/ reaksi radangnya (cuz etiologi blm jelas bgt),
sikloplegia u/ mencegah sikatrik)
B. beta bloker topikal
C. antihistamine topikal
D. Topical mast cell stabilizer
E. Antibiotik topical
skenario 2 soal:
pria 50th, mata merah, nyeri, keluar air mata. pada pemeriksaan ditemukan ulkus kornea
periferal
170. diagnosis?
A. Bacterial ulcer
B. Herpetic ulcer ?
C. Geographican ulcer
D. Fungal ulcer
E. Mooren's ulcer
171. terapi utama?
A. AB oral
B. antifungal
C. kortikosteroid topikal
D. Antihistamine
E. AB topikal
skenario 2 soal:
pria 55th, >
klinik mata, mata kiri kabur. pemeriksaan VOS 3/60 konjungtiva tenang,
kornea jernih, COA sedang, pupil bulat rx (+), lensa jernih, TIO 15 mmHg, funduscopy
Cup/Disc ratio 0,9, gonioskopi >
sudut terbuka
172. pemeriksaan apa lagi yg saudara lakukan?
A. Retinometer
B. Octopus perimetry
C. Streak retinoscopy
D. USG
E. Refractometry
173. diagnosa paling mungkin?
A. Glaukoma sudut tertutup primer
B. Glaukoma sudut terbuka primer
C. Glaukoma sudut terbuka sekunder
D. Glaukoma sudut tertutup sekunder
E. Serangan glaukoma akut
skenario 2 soal
pria 70th >
klinik 24jam, keluhan penurunan pendengaran pada telinga kiri sejak 6 bulan
yll. anda melakukan pemeriksaan audiometrik
174. u/ mengetahui derajat gangguan dengar anda melakukan
A. tes Rinne
B. tes Webber
C. tes Swabach
D. tes tone decay
E. tes BERA
175. setelah melakukan tes weber ternyata suara lebih keras pada telinga kiri, apa artinya
A. telinga kanan >
tuli konduktif
B. telinga kiri >
tuli konduktif
C. telinga kanan >
tuli sensorineural
D. telinga kiri >
tuli sensorineural
E. kedua telinga tuli konduktif
176. anak 3 tahun diantar ibunya krn belum bisa komunikasi
mana hal berikut yg menunjukkan dampak pada anak?
A. ketulian memberi hal yg sangat bermakna pd anak usia sekolah (69th)
B. ketulian mempengaruhi 'educational performance' dan perkembangan sosial
C. ketulian pd anak memberi dampak yg sama spt ketulian pd dewasa
D. ketulian pd usia dini (03)
tidak mempengaruhi perkembangan bicara
E. ketulian pd usia skolah (69)
mempengaruhi perkembangan bicara
177. anak laki2 5th >
poliklinik, otore telinga kiri sejak 3hr yll. diawali dgn infeksi saluran
napas atas. kesadaran CM, febris (39), membran timpani bulging dgn supurasi telinga tengah
diagnosis?
A. Miringitis bulosa
B. Otitis media supuratif kronik
C. Mastoiditis akut
D. Otitis media akut
E. Mastoiditis kronis
skenario 2 soal
bayi perempuan 8bln, >
UGD sesak napas sejak 3hr yll, stridor saat inspirasi dan retraksi
ringan di suprasternal. sesak berkurang bila penderita tidur miring atau memakai bantal. tidak
ada febris, tidak disertai gangguan makan/minum. pemeriksaan radiologis soft tissue leher
memperlihatkan penyempitan di daerah laring. keluhan seperti ini dirasakan sejak 2 bulan yll
tetapi sembuh sendiri
Dx: LARYNGOMALACIA
178. pemeriksaan penunjang?
A. nasoendoskopi
B. Rhinoskopi posterior
C. Rontgen thorax AP dan Lat
D. Laringoskopi >
OMEGA SHAPED EPIGLOTTIS
E. Esofagoskopi
179. pada anak, apakah upaya preventif penyakit diatas? GA ADA LAH, KONGENITAL
GITU LOWH..CUMA HINDARI ISPA, JGN TIDUR TERLENTANG, JGN NANGIS
(GMN CARA MENCEGAH ANAK KCIL NANGIS COBA???)
A. kortikosteroid dosis rendah jangka menengah
B. Vaksinasi Haemophillus influenza tipe B
C. Oksigenasi yg adekuat
D. AB dosis rendah jangka lama
E. hindari makanan dan minuman dingin dan es
180. anak perempuan 9th, dtg dgn hidung tersumbat sejak 2bln yll. keluhan terutama pada
pagi hari disertai bersin dan sekret hidung yg tertelan. rinoskopi anterior >
mukosa dan
konka hidung yg livide dan sekret yg serous.
apa pengobatan rasional?
A. membiasakan pasien kontak dgn alergen dari konsentrasi rendah
B. meningkatkan kebugaran jasmani dgn olahraga 1x/mgg
C. obat H1receptor
antagonist
D. dekongestan topikal selama 2 mgg
E. mengupayakan pengobatan yg mampu menekan gejala pada fase cepat maupun lambat
181. anak laki2 8th >
poliklinik, keluhan tidur mengorok sejak setahun yll hilang timbul.
pem.fisik >
pembesaran tonsil dgn tonsil tidak hiperemis, kripta melebar, dan detritus
PF mana yg memperlihatkan adanya tonsilitis kronis?
A. Pembesaran tonsil
B. tidak hiperemis
C. detritus minimal
D. tidur mengorok
E. kripta melebar
182. wanita 29th >
poli tht timbul benjolan di pipi kiri sejak 3th yll, nyeri tekan (),
diameter 5cm, dan mendorong daun telinga keatas. tidak ada tanda2 paralisis N VII, kulit
tampak normal. diagnosis?
A. tumor ganas kelenjar parotis
B. tumor jinak parotis
C. Sialoadenitis
D. TBC pada kelenjar parotis
E. Hemangioma di kelenjar parotis
183. anak perempuan 5th >
nyeri pada telinga kiri. 2mgg sebelumnya menurut ibunya,
anaknya pernah ke poli THT dgn keluhan otitis media akut supuratif bilateral tetapi sudah
sembuh. Ditemukan kolesteatoma pada telinga kiri. pasien ini direncanakan u/ operasi
pengangkatan kolesteatoma.
Apa tujuan dilakukan operasi?
A. perbaikan pendengaran
B. menjaga penurunan pendengaran
C. mengangkat seluruh jaringan patologis
D. mempertahankan keutuhan dinding posterior canal
E. rekonstruksi dari membran timpani
184. Seorang wanita, 32 tahun, G2P1A0, hamil 12 minggu.
Hb 10, mcv dan MCHC normal
a. tidak perlu diberi apa2
b. Br Fe 100 mg/hari >
masih mual (12minggu)
c. Kadar ferritin diperiksa
d. Beri Vit C
e. Nasehat makanan mengandung besi
185. Seorang wanita, 25 tahun mengeluh diperkosa 5 hari
yl. 2 hari kemudian Polisi minta VeR, sikap dokter
a. VeR berdasarkan rekam medis sebelumnya
b. Laporan medis berdasarkan rekam medis sebelumnya
c. Meminta Polisi membawa pasien kembali
d. VeR berdasarkan rekam medis sesuai tanggal
pemeriksaan
e. Menolak VeR
186. Jika pada pasien itu tidak dijumpai luka, selaput
dara berwarna merah, berarti
a. 5 hari yl benar diperkosa
b. Tidak benar diperkosa
c. Dibuat pingsan dulu baru diperkosa
d. Trauma selaput dara
e. Bersetubuh
Minggu, 15 Agustus 2010
HIFEMA
HIFEMA
I. PENDAHULUAN
Walaupun mata mempunyai pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelompak mata dengan bulu matanya, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, juga dengan telah dibuatnya macam-macam alat untuk melindungi mata, tetapi mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar. Terlebih-lebih dengan bertambah banyaknya kawasan industri, kecelakaan akibat pekerjaan bertambah pula, juga dengan bertambah ramainya lalu lintas, kecelakaan di jalan raya bertambah pula, serta kecelakaan mata biasanya terjadi akibat mainan, seperti penahan, ketepel, senapan angin, atau akibat lemparan, juga tusukan dari gagang mainan. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. 1,2
Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras (kencang) ataupun lambat. Yang akan terjadi bila mata terkena benturan benda keras, yaitu:
1) Bila tidak terjadi robekan pada bagian-bagian mata maka : a. Benda keras yang kecil dan lembut seperti mimis senapan mainan yang tidak tajam itu membentur daerah mata dan bila mata dalam keadaan terbuka akan mengenai kornea yang menimbulkan erosi (lecet sel epitel). Pasien akan merasa kesakitan dan sangat pedih pada mata, penglihatan menurun dan bila lecet lebih dalam maka dalam penyembuhannya akan terjadi jaringan parut yang membekas keputihan di kornea, sehingga penglihatan akan menurun karenanya. b. lebih lanjut, benturan yang cukup kuat akan mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah dalam bola mata pecah dan timbul pendarahan dalam bilik mata, yang biasa tampak dari luar disebut dengan hifema. Akan terasa sakit pada bola mata yang disertai penglihatan yang menurun. Perlu diketahui pula bahwa hifema bisa saja terjadi tidak seketika setelah benturan, tetapi akan muncul pada hari-hari berikutnya sampai hari ke-3. c. Pada keadaan lain bisa saja benda tersebut secara keras membentur sklera dan meskipun hifema tidak terjadi, bisa menyebabkan pendarahan pada retina dengan segala akibatnya. d. Penggumpalan pada perdarahan di bilik mata, bisa mengakibatkan hifema sekunder yang juga disertai rasa sakit pada bola mata dan bila tekanan bola mata itu meninggi akan mengakibatkan rasa mual dan muntah-muntah. e. akibat dari benturan-benturan keras tadi tidak berhenti disitu saja,. Bisa pula terjadi pada bagian iris yang terlepas dari dasarnya dan bila iridodialisis ini cukup besar akan dapat mengakibatkan pandangan monoklear (satu mata) yang ganda. f. Sedangkan pada lensa, bisa terjadi katarak trauma. g. Lensa bisa lepas dari ikatannya dan terjadi luksasi sebagian ataupun luksasi penuh. Akibat lanjut dari benturan pada kornea adalah gangguan pada sudut bilik mata yang lebih dalam, dan pada gilirannya nanti bila terjadi pembentukan jaringan ikat bisa timbul peninggian tekanan bola mata yang bersangkutan. i. Bisa pula terjadi uveitis yang disertai dengan peninggian tekanan bola mata yang memerlukan pengobatan yang serius. j. Pada bagian belakang bola mata, gangguan yang bisa terjadi adalah edema pada makula yang menyebabkan penglihatan menurun, robekan pada koroid yang mengakibatkan gangguan atau penurunan penglihatan. 2). Bila terjadi robekan pada bagian-bagian mata, maka akibatnya akan lebih buruk lagi, robekan bagian-bagian mata memerlukan tindakan koreksi bedah dengan berbagai akibat sampingannya, mulai kornea di depan iris, lensa, badan kaca, koroid, retina, sklera dan saraf optik.3,4
3). Bila benda yang membentur bola mata berukuran besar (misalnya bola tenis), maka struktur orbita ini terjadi di dasar rongga orbita bisa menimbulkan celah dimana otot-otot mata terjepit sehingga gerakan bola mata terhambat dan pada gilirannya pandangan menjadi ganda karena aksis penglihatan tidak sejajar lagi. Selain itu juga tampak mata yang cekung seperti bodi mobil yang penyok. 3,4
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat suatu trauma tembus maupun tumpul pada mata, akan tetapi dapat juga terjadi secara spontan. Secara umum dianggap bahwa hifema berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar. Mungkin juga berasal dari pembuluh darah kornea atau limbus dan badan siliar. Mungkin juga berasal dari pembuluh darah di kornea atau limbus atau karena terbentuknya pembuluh darah baru pada bekas operasi atau pada penyakit lain ( seperti rubeosis iridis). Pada pengamatan akan tampak darah dibalik kornea dan menutupi gambaran iris. Hifema dapat disertai dengan atau tanpa pendarahan pada konjunctiva. Pada sebagian besar pasien dilakukan pemeriksaan mata lengkap untuk menyingkirkan adanya ruptur bola mata. Jika bagian posterior bola mata tidak dapat dinilai karena adanya hifema, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan CT-Scan mata.
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang akan mengakibatkan kebutaan. 5,6,7
II. DEFINISI
Hifema merupakan suatu keadaan dimana di dalam bilik mata depan ditemukan darah yang biasanya berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar yang pecah, dapat terjadi akibat trauma tumpul, dapat juga pendarah ini terjadi spontan. Darah dalam bilik mata depan ini dapat mengisi seluruh bilik mata depan atau hanya mengisi bagian bawah bilik mata depan.6
III. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Lapisan vaskuler di dalam bola mata yang terdiri dari iris, badan silier dan koroid. Perdarahan uvea dibedakan antara bagian anterior di perdarahi oleh dua buah arteri siliaris posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dan dekat tempat masuk saraf optik dan tujuh buah arteri siliaris anterior, yang terdapat pada dua setiap otot rectus lateralis. Arteri siliaris anterior dan posterior ini bergabung menjadi stu membentuk sirkularis mayor pada badan siliar. Uvea posterior mendapat pendarahan dari 15-20 buah arteri siliaris posterior brevis yang menembus sklera di daerah sekitar tempat masuk saraf optik.1
Bilik mata depan (kamera okuli anterior) berisi cairan mata dengan batas depan bagian belakang kornea dan batas belakang iris dan lensa. Di bagian depan perifer terdapat sudut bilik mata (dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris) yang memegang peranan dalam mengeluarkan cairan mata. Cairan mata di sudut bilik mata yang mengalir keluar melalui kanalis Schlemn menuju pembuluh darah balik episklera.5
Iris merupakan bagian dari uvea anterior dan melekat di bagian perifer dengan bagian siliar. Stroma yang terletak di bagian depan tidak mempunyai tidak mempunyai epitel sedangkan di bagian belakang terdapat epitel yang berpigmen sehinga memberikan warna pada iris. Stroma iris banyak mengandung pembuluh darah, yaitu arteri sirkular iridis minor dan mayor. Kedua pembuluh darah ini dihubungkan oleh arteri radialis iris. Iris berisi dua kelompok serabut otot polos dimana kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil. Sementara otot yang lain melebarkan ukuran pupil.5
Badan siliar merupakan jaringan berbentuk segi tiga terletak melekat pada sklera, dan berhubungan erat dengan uvea posterior di sebelah belakang iris. Terdiri atas dua bagian : korona siliar (pars plikata), yaitu bagian anterior yang berkerut-kerut 2 mm dan pars plana, yaitu bagian yang halus dan rata, 4 mm. Epitel siliar terdiri atas 2 lapis, yaitu bagian luar yang berpigmen dan bagian dalam yang tidak berpigmen. Kedua-duanya melanjutkan diri sebagai lapisan pigmen permukaan posterior iris. Epitel pigmen merupakan lanjutan pigmen retina ke arah depan.5,8
Otot siliar terdiri atas bagian longitudinal dan bagian radial serta bagian sirkular. Fungsinya: mengerutkan dan mengendorkan otot-otot zoular, sehingga terjadi perubahan tegangan pada kapsul lensa yang memberikan berbagai fokus, baik terhadap objek dekat maupun objek yang terletak lebih jauh dalam lapangan pandang. 5,8
Koroid adalah segmen posterior uvea, diantara retina dan sklera. Koroid tersusun dari tiga lapisan pembuluh darah koroid: besar, sedang dan kecil. Semakin dalam pembuluh terletak di dalam koroid, semakin lebar lumennya. Bagian dalam pembuluh darah koroid dialirkan melalui empat vena vorteks, satu di masing-masing kuadran posterior. Koroid melekat erat ke posterior ke tepi-tepi nervus optikus. Ke anterior, koroid bersambung dengan badan siliar. Agregat pembuluh darah koroid memperdarahi bagian luar retina yang mendasarinya.8
IV. ETIOLOGI5,6
Hifema dapat terjadi akibat :
- trauma tumpul ataupun trauma tembus
- pendarahan spontan
- paska pembedahan
V. PATOFISIOLOGI
Trauma merupakan penyebab paling sering hifema. Oleh karena itu hifema sering ditemukan pada pasien berusia muda. Trauma tumpul pada kornea atau limbus dapat menimbulkan tekanan yang sangat tinggi, dan dalam waktu yang singkat di dalam bola mata terjadi penyebaran tekanan ke cairan badan kaca dan jaringan sklera yang tidak elastis sehingga terjadi peregangan-perenganan dan robekan pada kornea, sklera sudut iridokornea, badan siliar yang dapat menimbulkan pendarahan. Pendarahan sekunder dapat terjadi oleh karena resorbsi dari pembekuan darah terjadi cepat, sehingga pembuluh darah tidak mendapat waktu yang cukup untuk meregenerasi kembali, dan menimbulkan perdarahan lagi.2,8
Gambar 1
gambar menunjukkan daerah yang berpotensi terjadinya pendarahan pada trauma tumpul.
Pendarahan dapat terjadi segera setelah trauma yang disebut perdarahan primer atau perdarahan terjadi 5-7 hari sesudah trauma yang disebut perdarahan sekunder. Hifema sekunder biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pembekuan atau penyembuhan luka sehingga mempunyai prognosis yang lebih buruk. Perdarahan spontan dapat terjadi pada mata dengan rubeosis iridis, tumor pada iris, retinoblastoma dan kelainan darah yang mungkin diakibatkan karena terjadinya suatu kelemahan dinding-dinding pembuluh darah. Pada proses penyembuhan, hifema dikeluarkan dari bilik mata depan dalam bentuk sel darah merah melalui sudut bilik mata depan atau kanal Sclemn dan permukaan depan iris. Penyerapan melalui dataran depan iris dipercepat oleh enzim proteolitik yang dapat berlebihan di dataran depan iris. 5,6
Gambar 2
Hifema : darah pada bilik mata depan. Derajat berupa tidak dapat melihat secara jelas, sampai hanya dapat melihat persepsi
Gambar 3
Hifema: akibat pembunuh darah abnormal karena tumor (diabetes,inflamasi kronik) Darah di daerah aqueous keluar ke lapisan bagian inferior bilikmata depan
Sebagian darah dikeluarkan dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat hemosiderin berlebihan di dalam bilik mata depan, dapat terjadi penimbunan pigmen ini ke dalam lapis kornea. Penimbunan ini menimbulkan kekeruhan kornea terutama di bagian sentral sehingga terjadi perubahan warna kornea menjadi coklat yang disebut imbibisi kornea.5,6
Sementara itu darah di dalam bilik mata depan tidak sepenuhnya berbahaya. Namun, bila jumlahnya memadai maka ia dapat menghambat aliran humor aquos ke dalam trabekula., sehingga dapat menimbulkan glaukoma sekunder.2
VI. GEJALA KLINIS
Biasanya pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan bleforospasme.
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.1
VII. DIAGNOSA6,7
Untuk mengetahui kelainan yang ditimbulkan perlu diadakan pemeriksaan yang cermat, terdiri atas anamnesis dan pemeriksaan.
Anamnesis
Pada saat anamnesis kasus trauma mata ditanyakan waktu kejadian, proses terjadi trauma dan benda akan yang mengenai mata tersebut. Bagaimana arah datangnya benda yang mengenai mata itu, apakah dari depan, samping atas, samping bawah atau dari arah lain dan bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata. Perlu ditanyakan pula berapa besar benda mengenai mata dan bahan tersebut, apakah terbuat dari kayu, besi atau bahan lainnya. Jika kejadian kurang dari satu jam maka perlu ditanyakan ketajaman penglihatan atau keluhan nyeri pada mata karena berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler akibat pendarahan sekunder. Apakah trauma tersebut disertai sengan keluarnya darah, dan apakah sudah pernah mendapat pertolongan sebelumnya. Perlu juga ditanyakan riwayat kesehatan mata sebelum terjadi trauma, apabila terjadi pengurangan penglihatan ditanyakan apakah pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau setelah kecelakaan tersebut, ambliopia, penyakit kornea atau glaukoma, riwayat pembekuan darah atau penggunaan antikoagulan sistemik seperti aspirin atau warfarin.
Pemeriksaan mata
Pemeriksaan mata harus dilakukan secara lengkap. Semua hal yang berhubungan dengan cedera bola mata disingkirkan. Dilakukan pemeriksaan hifema dan menilai perdarahan ulang. Bila ditemukan kasus hifema, sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara teliti keadaan mata luar. Hal ini penting karena mungkin saja pada riwayat trauma tumpul akan ditemukan kelainan berupa trauma tembus, seperti:
- ekimosis
- laserasi kelopak mata
- proptosis
- enoftalmus
- fraktur yang disertai gangguan pada gerakan mata
Kadang-kadang kita menemukan kalainan berupa defek epitel, edema kornea dan imbibisi kornea bila hifema sudah terjadi lebih dari 5 hari. Ditemukan darah di dalam bilik mata depan. Menentukan derajat keparahan hifema, antara lain:
• Grade 1 : darah mengisi < 1/3 bilik depan mata
• Grade 2 : darah mengisi 1/3 – ½ bilik depan mata
• Grade 3 : darah mengisi ½ sampai hampir seluruh bilik depan mata
• Grade 4 : bilik depan mata tampak bekuan darah yang berbentuk blackball atau 8-ball hyphema
Saat melakukan pemeriksaan, hal terpenting adalah hati-hati dalam memeriksa kornea karena akan meningkatkan resiko bloodstaining pada lapisan endotel kornea.
Keadaan iris dan lensa juga dicatat, kadang-kadang pada iris dapat terlihat iridodialisis atau robekan iris.
Akibat trauma yang merupakan penyebab hifema ini mungkin lensa tidak berada di tempatnya lagi atau telah terjadi dislokasi lensa bahkan luksasi lensa.
Pada hifema sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata untuk mengetahui apakah sudah terjadi peningkatan tekanan bola mata.
Penilaian fundus perlu dicoba tetapi biasanya dangat sulit sehingga perlu situnggu sampai hifema hilang. Pemeriksaan funduskopi diperlukan untuk mengetahui akibat trauma pada segmen posterior bola mata. Kadang-kadang pemeriksaan ini tidak mungkin karena terdapat darah pada media penglihatan. Pada funduskopi kadang-kadang terlihat darah dalam badan kaca. Pemberian midriatika tidak dianjurkan kecuali bila untuk mencari benda asing pada polus posterior.
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- skrining sickle cell
- elektroforesis : untuk menentukan apakah sickle cell trait atau sickle cell disease
- X –ray
- USG
- CT-Scan orbita
IX. PENATALAKSANAAN 2,4,5,6
Pada dasarnya penanganan hifema ditujukan untuk :
- Menghentikan perdarahan atau mencegah perdarahan ulang
- Mengeluarkan darah dari bilik mata depan
- Mengendalikan tekanan bola mata
- Mencegah terjadinya imbibisi kornea
- Mengobati uveitis bila terjadi akibat hifema ini
- Menemukan sedini mungkin penyulit yang mungkin terjadi.
Penanganan umum penderita hifema traumatik antara lain, rawat rumah sakit, tirah baring, billateral patching, dan sedasi.
Penderita hifema harus dirawat. Dianjurkan untuk istirahat di tempat tidur dengan elevasi kepala 30-45 derajat agar darah turun ke bagian bawah bilik mata dan membantu dalam menilai derajat keparahan hifema. Juga dapat mempercepat perbaikan ketajaman penglihatan, mempermudah menilai bilik belakang mata, dan bilik depan mata lebih mudah dibersihkan. Bila mungkin kedua mata ditutup untuk memberikan istirahat pada mata.
Pada penderita yang gelisah dapat diberi sedatif. Bila terdapat rasa sakit diberi analgetik atau asetazolamid bila sakit pada kepala akibat tekanan bola mata naik. Analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri seperti asetaminofen dengan atau tanpa kodein, tergantung derajat nyeri. Obat-obat yang memberikan efek anti platelet dapat meningkatkan terjadinya pendarahan berulang sebaiknya tidak digunakan. Obat-obat golongan NSAID yang bersifat analgetik seperti asam mefenamat atau naproksen bisa mengganggu efek anti platelet. Obat-obatan tropikal yang dianjurkan sangat bervariasi, diantaranya siklopegik untuk iridosiklitis traumatik dan miotik untuk meningkatkan area permukaan resorbsi iris. Kortikosteroid dan estrogen topikal juga dianjurkan. Pemberian steroid topikal setelah hari ketiga dan keempat berguna untuk mengurangi terjadinya iridosiklitis dan mencegah terjadinya sinekia. Pemberian topikal atropine diindikasikan untuk penderita hifema grade 3 agar blok pupil bisa hilang.
Pemberian aminocaproic acid (ACA) sistemik dapat mencegah terjadinya perdarahan berulang. Aktifitas anti fibrinolitik ACA sistemik seperti ditunjukkan pada bagian tubuh yang lain yaitu menurunkan terjadinya pendarahan sekunder.
Traneksamic acid juga memiliki efek antifibronolitik. Pada anak-anak dengan dosis 25 mg/kg/hari dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder/ Steroid sistemik seperti prednison juga dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder. Steroid sistemik seperti prednison juga dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder.
Pada hifema primer penderita dipulangkan dari perawatan bila sesudah 5-7 hari pendarahan hilang atau dengan koagulum yang mengecil.
Tindakan pembedahan parasentese dilakukan bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoa, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila darah setelah 5 hari tidak memperlihatkan tanda-tanda berkurang.
Untuk mencegah atropi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila:
- tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari
- tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari
Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila:
- tekanan bola mata rata-rata > 25mmHg selama 6 hari
- bila terdapat tanda-tanda dini imbibisi kornea
Untuk mencegah sinekia posterior perifer dilakukan pembedahan bila:
- hifema total bertahan selama 5 hari
- Hifema difus bertahan selama 9 hari
X. PENYULIT
Hifema dapat menimbulkan beberapa penyulit seperti glaukoma, uveitis, imbibisi kornea yang akhirnya akan mengakibatkan kemunduran tajam penglihatan.5
XI. PROGNOSIS
Dikatakan bahwa prognosis hifema bergantung pada jumlah darah di dalam bilik mata depan. Bila darah sedikit di dalam bilik mata depan, maka darah ini akan hilang dan jernih sempurna. Sedangkan bila darah lebih dari setengah tingginya bilik mata depan, maka prognosa buruk yang akan disertai dengan beberapa penyulit. Hifema yang penuh di dalam bilik mata depan akan memberikan prognosis lebih buruk dibandingkan dengan hifema sebagian.
Pada hifema akibat trauma bila terjadi kemunduran tajam penglihatan dapat dipikirkan kemungkinan adanya kerusakan langsung pada mata akibat trauma tersebut, seperti luksasi lensa, ablasi retina dan odema makula.
Hifema sekunder terjadi pada hari ke 5-7 sesudah trauma biasanya lebih masif dibanding dengan hifema primer, dan dapat memberikan rasa sakit sekali.
Dapat terjadi keadaan yang disebut sebagai hemoftalmitis atau peradangan intraokular akibat adanya darah yang penuh di dalam bola mata. Dapat juga terjadi siderosis akibat hemoglobin atau siderin tersebar dan diikat oleh jaringan mata.
Prognosis penglihatan pada penderita hifema dipengaruhi oleh 3 faktor penting, yaitu:
1. kerusakan struktur mata yang lain, seperti : ruptur koroid
2. perdarahan sekunder
3. komplikasi berupa glaukoma, corneal bloodstaining atau atropi optikus
Penanganan ditujukan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi. Penanganan hifema dikatakan berhasil bila adanya perbaikan tajam penglihatan. Penderita hifema yang sembuh dengan visus 20/40 atau lebih baik tergantung dari derajat keparahan hifema, yaitu:
o Hifema grade 1 : 80%
o Hifema grade 2 : 60%
o Hifema grade 3 dan 4 : 35%
DAF TAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Hifema. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga, Jakarta; Balai Penerbit FKUI;2006
2. Wijana, N;Hifema. Dalam ; Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-5. 1989
3. Dampak Benturan Benda Keras pada Mata; available at URL; htttp://www1.bpkpenabur.or.id/jelajah/u3n8/25.pdf
4. Apotek Online dan Media Informasi Obat-Penyakit; available at URL: http://medicastore.com/cybermed/detail-pyk.php?idktg=16&iddtl=853
5. Ilyas S, Salamun MT, Azhar Z; Hifema. Dalam : Sari Ilmu Penyakit Mata. Cetakan Ketiga. Jakarta; Balai Penerbit FKUI; 2003
6. Ilyas S; Hifema. Dalam : Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Cetakan Ketiga. Jakarta; Balai Penerbit FKUI;2005
7. Ilyas S. MILngkY hhb, Taim H dkk; Hifema. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ke-2. Jakarta;Penerbit CV. Sagung Seto;2002
8. Voughan DG, Asbury T, Eva PR; Hifema. Dalam: Oftalmologi Umum. Edisi ke-14. Jakarta; Widya Medika;2000
PRESENTASI KASUS
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. A
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Aru Putih Aceh Selatan
Tanggal Masuk : 27 Juli 2007
II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Mata kiri merah
2. Keluhan Tambahan : bengkak pada kelopak mata kiri, pandangan sebelah kiri kabur, serta mata kiri nyeri
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan mata kiri merah serta bengkak pada kelopak mata kiri, serta terasa nyeri pada mata kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit RSUZA. Hal ini terjadi setelah mata kiri pasien terkena pukulan kayu yang dipukul oleh adik pasien tanpa sengaja.
Pasien juga mengeluh pandangan mata sebelah kirinya kabur setelah kejadian itu, sebelumnya pasien dapat melihat dengan jelas. kemudian oleh keluarga pasien dibawa ke RSUZA.
4. Riwayat Penyakit Dahulu :
disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
disangkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Present
Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 74x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,2oC
2. Status Internus
Kulit : sawo matang, tugor (N), pucat (-)
Mata : lihat status oftalmicus
Telinga : Meatus (N), nyeri tekan mastoid (-)
Leher : JVP (N), pembesaran kelenjar (-) kaku kuduk
Sistem pernafasan
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : fremitus (N/N)
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : vesikuler(N/N), rhonkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : cardiac bulding (-)
Palpasi : ictus cordis teraba di ICR V
Linea Midclavikula Sinistra
Perkusi : Batas-batas jantung
Atas : ICR II sinistra
Kanan : linea parasternalis dextra
Kiri : 1 cm medial linea midclavikula sinistra
Auskultasi : Peristaltik normal
3. Status Oftalmicus
PEMERIKSAAN OD OS
VISUS 5/5 4/60
TIO 12,3 mmHg 15,2 mmHg
PERGERAKAN Bebas Bebas
PALPEBRA SUPERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (+)
Hiperemis (+)
PALPEBRA INFERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (-)
CONJ. TARSAL SUPERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (+)
CONJ. TARSAL INFERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (-)
CONJUNCTIVA BULBI Kemosis (-)
Hiperemis (-)
Inj.siliar (-)
Inj, konjunctiva (-) Kemosis (-)
Hiperemis (+)
Inj.siliar (+)
Inj, konjunctiva (-)
KORNEA Jernih Jernih
COA Kedalaman (N) Kedalaman (N)
Hifema 1/4 COA
PUPIL Bulat, 3 mm
RC (+) Bulat, 3 mm
RC (+)
IRIS Kripta jelas Sdn
LENSA Jernih Jernih
IV. DIAGNOSA
Hifema Oculi sinistra ec. Trauma tumpul
V. PENATALAKSANAAN
• Bedrest dengan posisi kepala ditinggikan 30-45o
• Ciprofloxacin 2 x 500 mg tab
• Transamin acid 3 x 500 mg tab
• Timolol 0,5% ED 2 x gtt1 OS
• Asam mefenamat 3 x 500 mg
VI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
Quo ad visam : dubia ad bonam
Quo ad kosmetik : dubia ad bonam
I. PENDAHULUAN
Walaupun mata mempunyai pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelompak mata dengan bulu matanya, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, juga dengan telah dibuatnya macam-macam alat untuk melindungi mata, tetapi mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar. Terlebih-lebih dengan bertambah banyaknya kawasan industri, kecelakaan akibat pekerjaan bertambah pula, juga dengan bertambah ramainya lalu lintas, kecelakaan di jalan raya bertambah pula, serta kecelakaan mata biasanya terjadi akibat mainan, seperti penahan, ketepel, senapan angin, atau akibat lemparan, juga tusukan dari gagang mainan. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi penglihatan. 1,2
Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras (kencang) ataupun lambat. Yang akan terjadi bila mata terkena benturan benda keras, yaitu:
1) Bila tidak terjadi robekan pada bagian-bagian mata maka : a. Benda keras yang kecil dan lembut seperti mimis senapan mainan yang tidak tajam itu membentur daerah mata dan bila mata dalam keadaan terbuka akan mengenai kornea yang menimbulkan erosi (lecet sel epitel). Pasien akan merasa kesakitan dan sangat pedih pada mata, penglihatan menurun dan bila lecet lebih dalam maka dalam penyembuhannya akan terjadi jaringan parut yang membekas keputihan di kornea, sehingga penglihatan akan menurun karenanya. b. lebih lanjut, benturan yang cukup kuat akan mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah dalam bola mata pecah dan timbul pendarahan dalam bilik mata, yang biasa tampak dari luar disebut dengan hifema. Akan terasa sakit pada bola mata yang disertai penglihatan yang menurun. Perlu diketahui pula bahwa hifema bisa saja terjadi tidak seketika setelah benturan, tetapi akan muncul pada hari-hari berikutnya sampai hari ke-3. c. Pada keadaan lain bisa saja benda tersebut secara keras membentur sklera dan meskipun hifema tidak terjadi, bisa menyebabkan pendarahan pada retina dengan segala akibatnya. d. Penggumpalan pada perdarahan di bilik mata, bisa mengakibatkan hifema sekunder yang juga disertai rasa sakit pada bola mata dan bila tekanan bola mata itu meninggi akan mengakibatkan rasa mual dan muntah-muntah. e. akibat dari benturan-benturan keras tadi tidak berhenti disitu saja,. Bisa pula terjadi pada bagian iris yang terlepas dari dasarnya dan bila iridodialisis ini cukup besar akan dapat mengakibatkan pandangan monoklear (satu mata) yang ganda. f. Sedangkan pada lensa, bisa terjadi katarak trauma. g. Lensa bisa lepas dari ikatannya dan terjadi luksasi sebagian ataupun luksasi penuh. Akibat lanjut dari benturan pada kornea adalah gangguan pada sudut bilik mata yang lebih dalam, dan pada gilirannya nanti bila terjadi pembentukan jaringan ikat bisa timbul peninggian tekanan bola mata yang bersangkutan. i. Bisa pula terjadi uveitis yang disertai dengan peninggian tekanan bola mata yang memerlukan pengobatan yang serius. j. Pada bagian belakang bola mata, gangguan yang bisa terjadi adalah edema pada makula yang menyebabkan penglihatan menurun, robekan pada koroid yang mengakibatkan gangguan atau penurunan penglihatan. 2). Bila terjadi robekan pada bagian-bagian mata, maka akibatnya akan lebih buruk lagi, robekan bagian-bagian mata memerlukan tindakan koreksi bedah dengan berbagai akibat sampingannya, mulai kornea di depan iris, lensa, badan kaca, koroid, retina, sklera dan saraf optik.3,4
3). Bila benda yang membentur bola mata berukuran besar (misalnya bola tenis), maka struktur orbita ini terjadi di dasar rongga orbita bisa menimbulkan celah dimana otot-otot mata terjepit sehingga gerakan bola mata terhambat dan pada gilirannya pandangan menjadi ganda karena aksis penglihatan tidak sejajar lagi. Selain itu juga tampak mata yang cekung seperti bodi mobil yang penyok. 3,4
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat suatu trauma tembus maupun tumpul pada mata, akan tetapi dapat juga terjadi secara spontan. Secara umum dianggap bahwa hifema berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar. Mungkin juga berasal dari pembuluh darah kornea atau limbus dan badan siliar. Mungkin juga berasal dari pembuluh darah di kornea atau limbus atau karena terbentuknya pembuluh darah baru pada bekas operasi atau pada penyakit lain ( seperti rubeosis iridis). Pada pengamatan akan tampak darah dibalik kornea dan menutupi gambaran iris. Hifema dapat disertai dengan atau tanpa pendarahan pada konjunctiva. Pada sebagian besar pasien dilakukan pemeriksaan mata lengkap untuk menyingkirkan adanya ruptur bola mata. Jika bagian posterior bola mata tidak dapat dinilai karena adanya hifema, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan CT-Scan mata.
Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang akan mengakibatkan kebutaan. 5,6,7
II. DEFINISI
Hifema merupakan suatu keadaan dimana di dalam bilik mata depan ditemukan darah yang biasanya berasal dari pembuluh darah iris dan badan siliar yang pecah, dapat terjadi akibat trauma tumpul, dapat juga pendarah ini terjadi spontan. Darah dalam bilik mata depan ini dapat mengisi seluruh bilik mata depan atau hanya mengisi bagian bawah bilik mata depan.6
III. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Lapisan vaskuler di dalam bola mata yang terdiri dari iris, badan silier dan koroid. Perdarahan uvea dibedakan antara bagian anterior di perdarahi oleh dua buah arteri siliaris posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dan dekat tempat masuk saraf optik dan tujuh buah arteri siliaris anterior, yang terdapat pada dua setiap otot rectus lateralis. Arteri siliaris anterior dan posterior ini bergabung menjadi stu membentuk sirkularis mayor pada badan siliar. Uvea posterior mendapat pendarahan dari 15-20 buah arteri siliaris posterior brevis yang menembus sklera di daerah sekitar tempat masuk saraf optik.1
Bilik mata depan (kamera okuli anterior) berisi cairan mata dengan batas depan bagian belakang kornea dan batas belakang iris dan lensa. Di bagian depan perifer terdapat sudut bilik mata (dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris) yang memegang peranan dalam mengeluarkan cairan mata. Cairan mata di sudut bilik mata yang mengalir keluar melalui kanalis Schlemn menuju pembuluh darah balik episklera.5
Iris merupakan bagian dari uvea anterior dan melekat di bagian perifer dengan bagian siliar. Stroma yang terletak di bagian depan tidak mempunyai tidak mempunyai epitel sedangkan di bagian belakang terdapat epitel yang berpigmen sehinga memberikan warna pada iris. Stroma iris banyak mengandung pembuluh darah, yaitu arteri sirkular iridis minor dan mayor. Kedua pembuluh darah ini dihubungkan oleh arteri radialis iris. Iris berisi dua kelompok serabut otot polos dimana kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil. Sementara otot yang lain melebarkan ukuran pupil.5
Badan siliar merupakan jaringan berbentuk segi tiga terletak melekat pada sklera, dan berhubungan erat dengan uvea posterior di sebelah belakang iris. Terdiri atas dua bagian : korona siliar (pars plikata), yaitu bagian anterior yang berkerut-kerut 2 mm dan pars plana, yaitu bagian yang halus dan rata, 4 mm. Epitel siliar terdiri atas 2 lapis, yaitu bagian luar yang berpigmen dan bagian dalam yang tidak berpigmen. Kedua-duanya melanjutkan diri sebagai lapisan pigmen permukaan posterior iris. Epitel pigmen merupakan lanjutan pigmen retina ke arah depan.5,8
Otot siliar terdiri atas bagian longitudinal dan bagian radial serta bagian sirkular. Fungsinya: mengerutkan dan mengendorkan otot-otot zoular, sehingga terjadi perubahan tegangan pada kapsul lensa yang memberikan berbagai fokus, baik terhadap objek dekat maupun objek yang terletak lebih jauh dalam lapangan pandang. 5,8
Koroid adalah segmen posterior uvea, diantara retina dan sklera. Koroid tersusun dari tiga lapisan pembuluh darah koroid: besar, sedang dan kecil. Semakin dalam pembuluh terletak di dalam koroid, semakin lebar lumennya. Bagian dalam pembuluh darah koroid dialirkan melalui empat vena vorteks, satu di masing-masing kuadran posterior. Koroid melekat erat ke posterior ke tepi-tepi nervus optikus. Ke anterior, koroid bersambung dengan badan siliar. Agregat pembuluh darah koroid memperdarahi bagian luar retina yang mendasarinya.8
IV. ETIOLOGI5,6
Hifema dapat terjadi akibat :
- trauma tumpul ataupun trauma tembus
- pendarahan spontan
- paska pembedahan
V. PATOFISIOLOGI
Trauma merupakan penyebab paling sering hifema. Oleh karena itu hifema sering ditemukan pada pasien berusia muda. Trauma tumpul pada kornea atau limbus dapat menimbulkan tekanan yang sangat tinggi, dan dalam waktu yang singkat di dalam bola mata terjadi penyebaran tekanan ke cairan badan kaca dan jaringan sklera yang tidak elastis sehingga terjadi peregangan-perenganan dan robekan pada kornea, sklera sudut iridokornea, badan siliar yang dapat menimbulkan pendarahan. Pendarahan sekunder dapat terjadi oleh karena resorbsi dari pembekuan darah terjadi cepat, sehingga pembuluh darah tidak mendapat waktu yang cukup untuk meregenerasi kembali, dan menimbulkan perdarahan lagi.2,8
Gambar 1
gambar menunjukkan daerah yang berpotensi terjadinya pendarahan pada trauma tumpul.
Pendarahan dapat terjadi segera setelah trauma yang disebut perdarahan primer atau perdarahan terjadi 5-7 hari sesudah trauma yang disebut perdarahan sekunder. Hifema sekunder biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pembekuan atau penyembuhan luka sehingga mempunyai prognosis yang lebih buruk. Perdarahan spontan dapat terjadi pada mata dengan rubeosis iridis, tumor pada iris, retinoblastoma dan kelainan darah yang mungkin diakibatkan karena terjadinya suatu kelemahan dinding-dinding pembuluh darah. Pada proses penyembuhan, hifema dikeluarkan dari bilik mata depan dalam bentuk sel darah merah melalui sudut bilik mata depan atau kanal Sclemn dan permukaan depan iris. Penyerapan melalui dataran depan iris dipercepat oleh enzim proteolitik yang dapat berlebihan di dataran depan iris. 5,6
Gambar 2
Hifema : darah pada bilik mata depan. Derajat berupa tidak dapat melihat secara jelas, sampai hanya dapat melihat persepsi
Gambar 3
Hifema: akibat pembunuh darah abnormal karena tumor (diabetes,inflamasi kronik) Darah di daerah aqueous keluar ke lapisan bagian inferior bilikmata depan
Sebagian darah dikeluarkan dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat hemosiderin berlebihan di dalam bilik mata depan, dapat terjadi penimbunan pigmen ini ke dalam lapis kornea. Penimbunan ini menimbulkan kekeruhan kornea terutama di bagian sentral sehingga terjadi perubahan warna kornea menjadi coklat yang disebut imbibisi kornea.5,6
Sementara itu darah di dalam bilik mata depan tidak sepenuhnya berbahaya. Namun, bila jumlahnya memadai maka ia dapat menghambat aliran humor aquos ke dalam trabekula., sehingga dapat menimbulkan glaukoma sekunder.2
VI. GEJALA KLINIS
Biasanya pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan bleforospasme.
Penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.1
VII. DIAGNOSA6,7
Untuk mengetahui kelainan yang ditimbulkan perlu diadakan pemeriksaan yang cermat, terdiri atas anamnesis dan pemeriksaan.
Anamnesis
Pada saat anamnesis kasus trauma mata ditanyakan waktu kejadian, proses terjadi trauma dan benda akan yang mengenai mata tersebut. Bagaimana arah datangnya benda yang mengenai mata itu, apakah dari depan, samping atas, samping bawah atau dari arah lain dan bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata. Perlu ditanyakan pula berapa besar benda mengenai mata dan bahan tersebut, apakah terbuat dari kayu, besi atau bahan lainnya. Jika kejadian kurang dari satu jam maka perlu ditanyakan ketajaman penglihatan atau keluhan nyeri pada mata karena berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler akibat pendarahan sekunder. Apakah trauma tersebut disertai sengan keluarnya darah, dan apakah sudah pernah mendapat pertolongan sebelumnya. Perlu juga ditanyakan riwayat kesehatan mata sebelum terjadi trauma, apabila terjadi pengurangan penglihatan ditanyakan apakah pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau setelah kecelakaan tersebut, ambliopia, penyakit kornea atau glaukoma, riwayat pembekuan darah atau penggunaan antikoagulan sistemik seperti aspirin atau warfarin.
Pemeriksaan mata
Pemeriksaan mata harus dilakukan secara lengkap. Semua hal yang berhubungan dengan cedera bola mata disingkirkan. Dilakukan pemeriksaan hifema dan menilai perdarahan ulang. Bila ditemukan kasus hifema, sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara teliti keadaan mata luar. Hal ini penting karena mungkin saja pada riwayat trauma tumpul akan ditemukan kelainan berupa trauma tembus, seperti:
- ekimosis
- laserasi kelopak mata
- proptosis
- enoftalmus
- fraktur yang disertai gangguan pada gerakan mata
Kadang-kadang kita menemukan kalainan berupa defek epitel, edema kornea dan imbibisi kornea bila hifema sudah terjadi lebih dari 5 hari. Ditemukan darah di dalam bilik mata depan. Menentukan derajat keparahan hifema, antara lain:
• Grade 1 : darah mengisi < 1/3 bilik depan mata
• Grade 2 : darah mengisi 1/3 – ½ bilik depan mata
• Grade 3 : darah mengisi ½ sampai hampir seluruh bilik depan mata
• Grade 4 : bilik depan mata tampak bekuan darah yang berbentuk blackball atau 8-ball hyphema
Saat melakukan pemeriksaan, hal terpenting adalah hati-hati dalam memeriksa kornea karena akan meningkatkan resiko bloodstaining pada lapisan endotel kornea.
Keadaan iris dan lensa juga dicatat, kadang-kadang pada iris dapat terlihat iridodialisis atau robekan iris.
Akibat trauma yang merupakan penyebab hifema ini mungkin lensa tidak berada di tempatnya lagi atau telah terjadi dislokasi lensa bahkan luksasi lensa.
Pada hifema sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata untuk mengetahui apakah sudah terjadi peningkatan tekanan bola mata.
Penilaian fundus perlu dicoba tetapi biasanya dangat sulit sehingga perlu situnggu sampai hifema hilang. Pemeriksaan funduskopi diperlukan untuk mengetahui akibat trauma pada segmen posterior bola mata. Kadang-kadang pemeriksaan ini tidak mungkin karena terdapat darah pada media penglihatan. Pada funduskopi kadang-kadang terlihat darah dalam badan kaca. Pemberian midriatika tidak dianjurkan kecuali bila untuk mencari benda asing pada polus posterior.
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- skrining sickle cell
- elektroforesis : untuk menentukan apakah sickle cell trait atau sickle cell disease
- X –ray
- USG
- CT-Scan orbita
IX. PENATALAKSANAAN 2,4,5,6
Pada dasarnya penanganan hifema ditujukan untuk :
- Menghentikan perdarahan atau mencegah perdarahan ulang
- Mengeluarkan darah dari bilik mata depan
- Mengendalikan tekanan bola mata
- Mencegah terjadinya imbibisi kornea
- Mengobati uveitis bila terjadi akibat hifema ini
- Menemukan sedini mungkin penyulit yang mungkin terjadi.
Penanganan umum penderita hifema traumatik antara lain, rawat rumah sakit, tirah baring, billateral patching, dan sedasi.
Penderita hifema harus dirawat. Dianjurkan untuk istirahat di tempat tidur dengan elevasi kepala 30-45 derajat agar darah turun ke bagian bawah bilik mata dan membantu dalam menilai derajat keparahan hifema. Juga dapat mempercepat perbaikan ketajaman penglihatan, mempermudah menilai bilik belakang mata, dan bilik depan mata lebih mudah dibersihkan. Bila mungkin kedua mata ditutup untuk memberikan istirahat pada mata.
Pada penderita yang gelisah dapat diberi sedatif. Bila terdapat rasa sakit diberi analgetik atau asetazolamid bila sakit pada kepala akibat tekanan bola mata naik. Analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri seperti asetaminofen dengan atau tanpa kodein, tergantung derajat nyeri. Obat-obat yang memberikan efek anti platelet dapat meningkatkan terjadinya pendarahan berulang sebaiknya tidak digunakan. Obat-obat golongan NSAID yang bersifat analgetik seperti asam mefenamat atau naproksen bisa mengganggu efek anti platelet. Obat-obatan tropikal yang dianjurkan sangat bervariasi, diantaranya siklopegik untuk iridosiklitis traumatik dan miotik untuk meningkatkan area permukaan resorbsi iris. Kortikosteroid dan estrogen topikal juga dianjurkan. Pemberian steroid topikal setelah hari ketiga dan keempat berguna untuk mengurangi terjadinya iridosiklitis dan mencegah terjadinya sinekia. Pemberian topikal atropine diindikasikan untuk penderita hifema grade 3 agar blok pupil bisa hilang.
Pemberian aminocaproic acid (ACA) sistemik dapat mencegah terjadinya perdarahan berulang. Aktifitas anti fibrinolitik ACA sistemik seperti ditunjukkan pada bagian tubuh yang lain yaitu menurunkan terjadinya pendarahan sekunder.
Traneksamic acid juga memiliki efek antifibronolitik. Pada anak-anak dengan dosis 25 mg/kg/hari dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder/ Steroid sistemik seperti prednison juga dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder. Steroid sistemik seperti prednison juga dapat menurunkan terjadinya perdarahan sekunder.
Pada hifema primer penderita dipulangkan dari perawatan bila sesudah 5-7 hari pendarahan hilang atau dengan koagulum yang mengecil.
Tindakan pembedahan parasentese dilakukan bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoa, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila darah setelah 5 hari tidak memperlihatkan tanda-tanda berkurang.
Untuk mencegah atropi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila:
- tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari
- tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari
Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila:
- tekanan bola mata rata-rata > 25mmHg selama 6 hari
- bila terdapat tanda-tanda dini imbibisi kornea
Untuk mencegah sinekia posterior perifer dilakukan pembedahan bila:
- hifema total bertahan selama 5 hari
- Hifema difus bertahan selama 9 hari
X. PENYULIT
Hifema dapat menimbulkan beberapa penyulit seperti glaukoma, uveitis, imbibisi kornea yang akhirnya akan mengakibatkan kemunduran tajam penglihatan.5
XI. PROGNOSIS
Dikatakan bahwa prognosis hifema bergantung pada jumlah darah di dalam bilik mata depan. Bila darah sedikit di dalam bilik mata depan, maka darah ini akan hilang dan jernih sempurna. Sedangkan bila darah lebih dari setengah tingginya bilik mata depan, maka prognosa buruk yang akan disertai dengan beberapa penyulit. Hifema yang penuh di dalam bilik mata depan akan memberikan prognosis lebih buruk dibandingkan dengan hifema sebagian.
Pada hifema akibat trauma bila terjadi kemunduran tajam penglihatan dapat dipikirkan kemungkinan adanya kerusakan langsung pada mata akibat trauma tersebut, seperti luksasi lensa, ablasi retina dan odema makula.
Hifema sekunder terjadi pada hari ke 5-7 sesudah trauma biasanya lebih masif dibanding dengan hifema primer, dan dapat memberikan rasa sakit sekali.
Dapat terjadi keadaan yang disebut sebagai hemoftalmitis atau peradangan intraokular akibat adanya darah yang penuh di dalam bola mata. Dapat juga terjadi siderosis akibat hemoglobin atau siderin tersebar dan diikat oleh jaringan mata.
Prognosis penglihatan pada penderita hifema dipengaruhi oleh 3 faktor penting, yaitu:
1. kerusakan struktur mata yang lain, seperti : ruptur koroid
2. perdarahan sekunder
3. komplikasi berupa glaukoma, corneal bloodstaining atau atropi optikus
Penanganan ditujukan untuk mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi. Penanganan hifema dikatakan berhasil bila adanya perbaikan tajam penglihatan. Penderita hifema yang sembuh dengan visus 20/40 atau lebih baik tergantung dari derajat keparahan hifema, yaitu:
o Hifema grade 1 : 80%
o Hifema grade 2 : 60%
o Hifema grade 3 dan 4 : 35%
DAF TAR PUSTAKA
1. Ilyas S, Hifema. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga, Jakarta; Balai Penerbit FKUI;2006
2. Wijana, N;Hifema. Dalam ; Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-5. 1989
3. Dampak Benturan Benda Keras pada Mata; available at URL; htttp://www1.bpkpenabur.or.id/jelajah/u3n8/25.pdf
4. Apotek Online dan Media Informasi Obat-Penyakit; available at URL: http://medicastore.com/cybermed/detail-pyk.php?idktg=16&iddtl=853
5. Ilyas S, Salamun MT, Azhar Z; Hifema. Dalam : Sari Ilmu Penyakit Mata. Cetakan Ketiga. Jakarta; Balai Penerbit FKUI; 2003
6. Ilyas S; Hifema. Dalam : Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Cetakan Ketiga. Jakarta; Balai Penerbit FKUI;2005
7. Ilyas S. MILngkY hhb, Taim H dkk; Hifema. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ke-2. Jakarta;Penerbit CV. Sagung Seto;2002
8. Voughan DG, Asbury T, Eva PR; Hifema. Dalam: Oftalmologi Umum. Edisi ke-14. Jakarta; Widya Medika;2000
PRESENTASI KASUS
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. A
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Aru Putih Aceh Selatan
Tanggal Masuk : 27 Juli 2007
II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Mata kiri merah
2. Keluhan Tambahan : bengkak pada kelopak mata kiri, pandangan sebelah kiri kabur, serta mata kiri nyeri
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan mata kiri merah serta bengkak pada kelopak mata kiri, serta terasa nyeri pada mata kiri sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit RSUZA. Hal ini terjadi setelah mata kiri pasien terkena pukulan kayu yang dipukul oleh adik pasien tanpa sengaja.
Pasien juga mengeluh pandangan mata sebelah kirinya kabur setelah kejadian itu, sebelumnya pasien dapat melihat dengan jelas. kemudian oleh keluarga pasien dibawa ke RSUZA.
4. Riwayat Penyakit Dahulu :
disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
disangkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Present
Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 74x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,2oC
2. Status Internus
Kulit : sawo matang, tugor (N), pucat (-)
Mata : lihat status oftalmicus
Telinga : Meatus (N), nyeri tekan mastoid (-)
Leher : JVP (N), pembesaran kelenjar (-) kaku kuduk
Sistem pernafasan
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : fremitus (N/N)
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : vesikuler(N/N), rhonkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : cardiac bulding (-)
Palpasi : ictus cordis teraba di ICR V
Linea Midclavikula Sinistra
Perkusi : Batas-batas jantung
Atas : ICR II sinistra
Kanan : linea parasternalis dextra
Kiri : 1 cm medial linea midclavikula sinistra
Auskultasi : Peristaltik normal
3. Status Oftalmicus
PEMERIKSAAN OD OS
VISUS 5/5 4/60
TIO 12,3 mmHg 15,2 mmHg
PERGERAKAN Bebas Bebas
PALPEBRA SUPERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (+)
Hiperemis (+)
PALPEBRA INFERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (-)
CONJ. TARSAL SUPERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (+)
CONJ. TARSAL INFERIOR Oedem (-)
Hiperemis (-) Oedem (-)
Hiperemis (-)
CONJUNCTIVA BULBI Kemosis (-)
Hiperemis (-)
Inj.siliar (-)
Inj, konjunctiva (-) Kemosis (-)
Hiperemis (+)
Inj.siliar (+)
Inj, konjunctiva (-)
KORNEA Jernih Jernih
COA Kedalaman (N) Kedalaman (N)
Hifema 1/4 COA
PUPIL Bulat, 3 mm
RC (+) Bulat, 3 mm
RC (+)
IRIS Kripta jelas Sdn
LENSA Jernih Jernih
IV. DIAGNOSA
Hifema Oculi sinistra ec. Trauma tumpul
V. PENATALAKSANAAN
• Bedrest dengan posisi kepala ditinggikan 30-45o
• Ciprofloxacin 2 x 500 mg tab
• Transamin acid 3 x 500 mg tab
• Timolol 0,5% ED 2 x gtt1 OS
• Asam mefenamat 3 x 500 mg
VI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
Quo ad visam : dubia ad bonam
Quo ad kosmetik : dubia ad bonam
KANKER PARU
KANKER PARU
Pendahuluan 1
Lebih dari 90 % tumor paru primer merupakan tumor ganas, dan sekitar 95 % tumor ganas ini termasuk kanker paru. Meskipun dianggap sebagai suatu bentuk keganasan yang jarang terjadi, insidens kanker paru di negara industri telah meningkat sampai tahap epidemik. Kanker paru sekarang ini telah menjadi sebab utama dari kematian akibat kanker pada pria maupun wanita. Insidens tertinggi terjadi pada usia antara 55-65 tahun. Peningkatan ini dipercaya ada hubungannya dengan makin tingginya kebiasaan merokok sigaret yang sebenarnya sebagian besar dapat dihindari.
Definisi
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru (metastasis tumor di paru). Kelainan pada epitel bronkus berupa hiperplasi sel basal, metaplasi skwamosa atau carcinoma in situ. Kanker paru disebut juga karsinoma bronkus (bronchogenic carcinoma). 2,3
Etiologi
Penyebab pasti kanker paru belum diketahui, tetapi inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik dan lain-lain. Dari beberapa kepustakaan dilaporkan bahwa etiologi kanker paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok. Lombard dan Doering (1928), telah melaporkan tingginya insidens kanker paru pada perokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Terdapat hubungan antara jumlah rokok yang diisap perhari dengan tingginya insidensi kanker paru. Perokok pasif pun akan menerima risiko terkena kanker paru. Diperkirakan 25 % kanker paru dari bukan paru adalah berasal dari perokok pasif. 4
Etiologi lain kanker paru yang pernah dilaporkan adalah: 4
a. Yang berhubungan dengan pajanan zat karsinogen, seperti:
* Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
* Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
* Radon, arsen, kromium, nikel, polycyclic hydrocarbon, vinyl chloride
b. Polusi udara
pasien kanker paru lebih banyak didaerah urban yang banyak polusi udaranya dibandingkan yang tinggal didaerah rural.
c. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru.
Dua faktor lain yang dapat pula berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kanker paru adalah diet dan familial. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perokok yang dietnya rendah vitamin A memperbesar risiko terjadinya kanker paru. Terdapat juga bahwa anggota keluarga dari penderita kanker pau memiliki risiko yang lebih besar terhadap penyakit ini, walaupun demikian tidak diketahui apakah hal ini benar-benar herediter atau karena faktor familial. 1
Patologi
Kanker paru-paru primer biasanya diklasifikasikan menurut jenis histologinya, semuanya memiliki riwayat alami dan respon terhadap pengobatan yang berbeda-beda.
a. SCLC (Small Cell Lung Cancer)
Gambaran histologis yang khas adalah dominasi sel-sel kecil yang hampir semuanya diisi oleh mukus dengan sebaran kromatin dan sedikit sekali/tanpa nukleoli. Sel kecil ini cenderung berkumpul disekeliling pembuluh darah halus. Sel-sel yang bermitosis banyak sekali ditemukan begitu juga gambaran nekrosis. DNA yang terlepas menyebabkan warna gelap disekitar pembuluh darah.
SCLC mempunyai daya metastasis yang lebih tinggi, yakni sebelum tumor primer dapat dideteksi metastasis telah terjadi pada kelenjar limfe. Disamping itu SCLC juga mempunyai tingkat pembelahan yang tinggi, sehingga relatif lebih sensitif terhadap tindakan radioterapi maupun sitostatik, akan tetapi tertutup kemungkinan untuk dilakukannya tindakan operasi. 4,5
b. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)
Karsinoma sel skuamosa berciri khas proses keratinisasi dan pembentukan bridge intraselular. Studi sitologi memperlihatkan perubahan yang nyata dari displasia skuamosa ke karsinoma in situ. 4
Gambaran Klinis 4
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala berat pasien sudah dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
a. Lokal (tumor tumbuh setempat):
• Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronik.
• Hemoptisis.
• Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas.
• Kadang terdapat kavitas seperti abses paru.
• Ateletaksis.
b. Invasi lokal:
• Nyeri dada.
• Dispnea karena efusi pleura.
• Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia.
• Sindrom vena cava superior.
• Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis).
• Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent.
• Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis servikalis.
c. Gejala penyakit metastasis:
• Pada otak, tulang, hati, adrenal
• Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
d. Sindrom Paraneoplastik:
Terdapat pada 10 % kanker paru dengan gejala:
• Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam.
• Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulsi.
• Hipertrofi osteoartropati.
• Neurologik: demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer.
• Neuromiopati
• Endokrin: sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalsemia).
• Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh.
• Renal: SIADH.
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
• Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara radiologis.
• Kelainan berupa nodul soliter.
Prosedur Diagnostik
Alat utama untuk mendiagnosis kanker paru adalah radiologi, bronkoskopi, dan sitologi. CT scan mungkin dapat memberikan bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi-lesi yang dicurigai. 4
Menurut Veeze (1968) gambaran radiologi yang terdapat pada prinsipnya dapat dibagi atas 3 bagian, yakni: 5
• Nodus perifer antara 20-40 %
• Pembesaran hilus yang terjadi berkisar antara 30-40 %
• Infiltrasi atau ateletaksis 30-50 %
Menurut Rigle (1955) diameter rata-rata dari masing-masing hilus adalah 5,5 cm. dengan jumlah diameter kedua hilus adalah 11 cm, maka perbedaan antara kedua hilus menjadi kurang dari 1 cm. hilus dikatakan melebar bila diameter total lebih dari 13 cm atau perbedaan diantaranya lebih dari 1,7 cm. 5
1. Pemeriksaan Radiologi 6
a. Foto thoraks PA, lateral dan oblique (bila perlu). Hal ini untuk menentukan letak tumor dengan tepat. Kelainan dapat berupa bayangan padat dengan batas suram atau tegas. Harus dicari tandapembesaran kelenjar getah bening di hilus, tanda destruksi iga, pendorongan atau penarikan trakea dan mediastinum, serta kelumpuhan diafragma.
b. Pemeriksaan sinar tembus untuk melihat adanya kelumpuhan diafragma, juga untuk melihat apakah tumor berdenyut atau tidak.
c. Pemeriksaan tomogram untuk menentukan pembesaran kelenjar bening di hilus/mediastinum.
d. Pemeriksaan bronkografi untuk memperlihatkan letak tumor dipercabangan bronkus.
e. Pemeriksaan untuk mencari metastasis jauh:
• Bone Survey/Bone Scanning, untuk mencari metastasis di tulang-tulang.
• Liver Scanning atau Ultrasonografi, untuk mencari metastasis di hati.
• Computerized tomography scanning (CT-Scanning) dari cranium/brain scanning.
• Beberapa ahli menggunakan CT-Scan abdomen, untuk melihat metastasis supra renal.
2. Bronkoskopi 6
Kelainan yang dapat ditemukan secara bronkoskopik ialah:
• Kelainan dinding bronkus yang berupa: tumor intrabronkial
• Perubahan pada lumen bronkus, berupa stenosis atau obstruksi.
Pemeriksaan bronkoskopi harus dilanjutkan dengan pengambilan bahan pemeriksaan histologis/sitologis.
3. Sitologi 4,6
Bahan didapatkan dari:
• Sputum: pada kanker paru yang letaknya sentral, pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 %pada sel skuamosa.
• Cairan pleura: dilakukan bila terdapat efusi pleura. Selain untuk diagnostik juga bertujuan terapeutik.
• Bilasan bronkus
Staging Kanker paru 4
Staging yang dibuat oleh The International System for Staging Lung Cancer, serta diterima oleh The American Joint Committee on Cancer (AJCC) dan The Union Internationale Contre Ie Cancere (UICC), memberikan klasifikasi kanker paru pada tahun 1973 dan kemudian direvisi 1986 dan terakhir pada tahun 1997.
Staging sistem TNM terdiri dari:
Occult Ca Tx No Mo BARU 1997 TNM
Stage 0 Tis Carcinoma Insitu
Stage I T1-2 N0 M0 Stage IA T1N0M0
Stage II T1-2 N1 M0 Stage IB T2N0M0
Stage III A T3
T1-3 N0-1
N2 M0
M0 Stage IIA
Stage IIB T1N1M0
T2N1M0
Stage IIIB
Stage IV
T4
T1-3
T1-4 N0-3
N3
N1-3 M0
M0
M1 Stage IIIA
Stage IIIB
Stage IV
T1-3N2M0
T3N1M0
T4 Any NM0
Any TN3M0
Any T Any NM1
Keterangan :
Tx = * tumor terbukti ganas didapat dari sekret bronkopulmoner, tapi tidak terlihat secara bronkoskopis dan radiologis.
* tumor tidak bias dinilai pada staging retreatment.
Tis = carcinoma in situ (pre invasive carcinoma)
T1 = tumor, diameter < 3 cm
T2 = tumor, diameter 3 cm atau terdapat ateletaksis pada distal hilus
T3 = tumor ukuran apa pun meluas ke pleura, dinding dada, diafragma, perikardium, < 2 cm dari karina, terdapat ateletaksis total.
T4 = tumor ukuran apapun invasi ke mediastinum atau terdapat efusi pleura maligna.
No = tidak ada kelenjar getah bening (KGB) yang terlibat
N1 = metastasis KGB bronkopulmoner atau ipsilateral hilus
N2 = metastasis KGB mediastinal atas sub carina
N3 = metastasis KGB mediastinal kontra lateral atau hilus atau KGB skalenus atau supraklavikular
Mo = tidak ada metastasis jinak
M1 = metastasis jinak pada organ (otak, hati, dll)
Pengobatan
Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-modaliti terapi). Kenyataannya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya dihadapkan pada jenis histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi non-medis seperti fasiliti yang dimiliki Rumah Sakit dan ekonomi penderita juga merupakan faktor yang amat menentukan. 2
Tujuan pengobatan kanker : 4
1. Kuratif : menyembuhkan, memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup pasien.
2. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
3. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal : mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.
4. Suportif : menunjang pengobatan kuratif, paliatif, dan terminal seperti pemberian nutrisi, transfusi darah dan komponen darah, growth factors obat anti nyeri dan obat anti infeksi.
Pada NSCLC, terapi bedah adalah pilihan pertama pada stadium I atau II pada pasien dengan sisa cadangan parenkim paru yang cukup. Luasnya penyebaran intradada yang ditemui saat operasi menjadi pegangan luas prosedur operasi yang dilaksanakan. 4
Survival pasien yang dioperasi pada stadium I mendekati 60 %, pada stadium II 26-37 %, dan II A 17-36,3 %. Pada stadium III A masih ada kontroversi mengenai keberhasilan operasi bila kelenjar mediastinum ipsilateral atau dinding thoraks terdapat metastasis. Pasien III b dan IV tidak dioperasi. Combined modality therapy yaitu gabungan radiasi, kemoterapi dengan operasi (dua atau tiga modalitas) dilaporkan memperpanjang survival. 4
a. Radioterapi
Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000 – 6000 cGy, dengan cara pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu. 2
Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah : 2
1. Hb > 10 gr%
2. Trombosit > 100.000/mm3
3. Leukosit > 3000/dl
Pada pasien dengan metastasis sebatas N1-2 atau saat operasi terlihat tumor sudah merambat sebatas sayatan operasi, radiasi pasca operasi dianjurkan untuk diberikan. Radiasi praoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar misalnya pada reseksi lebih komplit pada tumor pancoast atau stadium III B dilaporkan bermanfaat dari beberapa sentra kanker. Radiasi paliatif pada kasus sindrom vena cava superior atau kasus dengan komplikasi dalam rongga dada akibat kanker seperti hemoptisis, ateletaksis, mengurangi nyeri akibat metastasis ke kranium dan tulang. 4
b. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus ditentukan jenis histologis tumor dan tampilan (performance status). Dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalam kombinasi regimen kemoterapi. Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat antikanker dapat dilakukan. 2
Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemoterapi : 2
1. Tampilan ≥ 70-80, pada penderita dengan PS < 70 atau usia lanjut, dapat diberikan obat antikanker dengan regimen tertentu dan/atau jadual tertentu
2. Hb ≥ 10 gr%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut,meski Hb < 10 gr% tidak perlu transfusi darah segera, cukup diberi terapi sesuai dengan penyebab anemia
3. Granulosit ≥ 1500/mm3
4. Trombosit ≥ 100.000/mm3
5. Fungsi hati baik
6. Fungsi ginjal baik
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kegagalan pencapaian target pengobatan antara lain : 4
• Resistensi terhadap sitostatik
• Penurunan dosis sitostatik : penurunan dosis sebesar 20 % akan menurunkan angka harapan sembuh sekitar 50 %
• Penurunan intensitas obat, karena jumlah obat yang diterima selama kurun waktu tertentu kurang.
c. Pembedahan 6
Didasarkan atas jenis histologi, derajat, (stage, stadium), dan toleransi/tampilan (performance status) penderita. Disamping itu perlu juga diperhatikan faktor umur, faal paru, faal jantung, dan faal organ lain.
d. Pemilihan Obat 4
Kebanyakan obat sitostatik mempunyai aktivitas cukup baik pada NSCLC dengan tingkat respons antara 15-33 %, walaupun demikian penggunaan obat tunggal tidak capai remisi komplit. Kombinasi beberapa sitostatik telah banyak diteliti untuk meningkatkan tingkat respon yang akan berdampak pada harapan hidup.
Mula-mula rejimen CAMP yang terdiri dari siklofosfamid, doksorubisin metotreksat dan prokarbasin, tingkat respons regimen ini 26 %.
Obat baru saat ini telah banyak dihasilkan dan dicobakan sebagai obat tunggal seperti Paclitaxel, Docetaxel, Vinorelbine, Gemcitabine, dan Irenotecan dengan hasil yang cukup menjanjikan. Begitu juga bila dimasukkan ke rejimen lama membentuk rejimen baru.
Prognosis
Prognosis secara keseluruhan bagi pasien-pasien dengan karsinoma bronkogenik adalah buruk (kelangsungan hidup 5 %) dan hanya sedikit meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun telah diperkenalkan berbagai agen-agen kemoterapi yang baru. Dengan demikian , penekanan harus diberikan pada pencegahan. 1
1. Small Cell Lung Cancer (SCLC) 4
• Dengan adanya perubahan terapi dalam 15-20 tahun belakangan ini kemungkinan hidup rata-rata (median survival time) yang tadinya < 3 bulan meningkat menjadi 1 tahun.
• Pada kelompok Limited Disease kemungkinan hidup rata-rata naik menjadi 1-2 tahun, sedangkan 20 % daripadanya tetap hidup dalam 2 tahun.
• 30 % meninggal karena komplikasi lokal tumor.
• 70 % meninggal karena karsinomatosis.
• 50 % bermetastasis ke otak (autopsi).
2. Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC) 4
• Yang terpenting pada prognosis kanker paru ini adalah menentukan stadium penyakit.
• Dibandingkan dengan jenis lain NSCLC, karsinoma skuamosa tidaklah seburuk yang lainnya. Pada pasien yang dilakukan tindakan bedah, kemungkinan hidup 5 tahun setelah operasi adalah 30 %.
• Survival setelah tindakan bedah, 70 % pada occult carcinoma; 35-40 % pada stadium 1; 10-15 % pada stadium II dan kurang dari 10 % pada stadium III.
• 75 % karsinoma skuamosa meninggal akibat komplikasi torakal, 2 % diantaranya meninggal karena gangguan sistem saraf sentral.
• 40 % adenokarsinoma dan karsinoma sel besar meninggal akibat komplikasi torakal, 55 % karena ekstra torakal.
• 15 % adenokarsinoma dan karsinoma sel besar bermetastasis ke otak dan 8-9 % meninggal karena kelainan sistem saraf sentral.
• Kemungkinan hidup rata-rata pasien tumor metastasis bervariasi, dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun, hal ini sangat tergantung pada :
- Performance status.
- Luasnya penyakit.
- Adanya penurunan berat badan dalam 6 bulan terakhir.
Pencegahan 4
• Pencegahan yang paling penting adalah tidak merokok sejak usia muda. Berhenti merokok dapat mengurangi risiko terkena kanker paru. Penelitian dari kelompok perokok yang berusaha berhenti merokok, hanya 30 % yang berhasil.
• Akhir-akhir ini pencegahan dengan chemoprevention banyak dilakukan, yakni dengan memakai derivate asam retinoid,karotenoid, vitamin C, selenium, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wilson M. Lorrain, Tumor Ganas Paru-paru dalam Patofisiologi, buku II, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Kanker Paru dalam Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Kanker Paru di Indonesia, Jakarta, 2001.
3. Kurniawan A.N, Penyakit Paru-paru dalam Kumpulan Kuliah Patologi, Penerbit FKUI, Jakarta, 1998.
4. Amin Zulkifli, Bahar Asril, Tumor paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi Ketiga, Penerbit FKUI, Jakarta, 2001.
5. Rab, Tabrani, Diagnosa Dini Kanker Paru, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 1982.
6. Ismid D.I Busroh, Pembedahan Kanker Paru dalam Pembedahan Pada Keganasan Saluran Utama Pernapasan, Penerbit Universitas Indonesia,cetakan pertama, Jakarta, 2004.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul “Kanker Paru”, yang merupakan tugas mahasiswa program profesi yang menjalankan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian/SMF Ilmu Pulmonologi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan referat ini, terutama kepada pembimbing dr. T. Moead Zulkifly, Sp.P, dosen SMF Pulmonologi FK Unsyiah-RSUZA Banda Aceh, juga kepada teman sejawat doktermuda yang telah membantu sepenuhnya dalam penulisan referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya akan kekurangan dan kelemahan yang terdapat pada penulisan referat ini, oleh karena terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang penulis miliki. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan referat ini.
Akhirnya penulis mengharapkan agar tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun pihak lain yang berkepentingan.
Banda Aceh, Desember 2005
Penulis
Meta Maulinda, S.Ked
Pendahuluan 1
Lebih dari 90 % tumor paru primer merupakan tumor ganas, dan sekitar 95 % tumor ganas ini termasuk kanker paru. Meskipun dianggap sebagai suatu bentuk keganasan yang jarang terjadi, insidens kanker paru di negara industri telah meningkat sampai tahap epidemik. Kanker paru sekarang ini telah menjadi sebab utama dari kematian akibat kanker pada pria maupun wanita. Insidens tertinggi terjadi pada usia antara 55-65 tahun. Peningkatan ini dipercaya ada hubungannya dengan makin tingginya kebiasaan merokok sigaret yang sebenarnya sebagian besar dapat dihindari.
Definisi
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru (metastasis tumor di paru). Kelainan pada epitel bronkus berupa hiperplasi sel basal, metaplasi skwamosa atau carcinoma in situ. Kanker paru disebut juga karsinoma bronkus (bronchogenic carcinoma). 2,3
Etiologi
Penyebab pasti kanker paru belum diketahui, tetapi inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik dan lain-lain. Dari beberapa kepustakaan dilaporkan bahwa etiologi kanker paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok. Lombard dan Doering (1928), telah melaporkan tingginya insidens kanker paru pada perokok dibandingkan dengan yang tidak merokok. Terdapat hubungan antara jumlah rokok yang diisap perhari dengan tingginya insidensi kanker paru. Perokok pasif pun akan menerima risiko terkena kanker paru. Diperkirakan 25 % kanker paru dari bukan paru adalah berasal dari perokok pasif. 4
Etiologi lain kanker paru yang pernah dilaporkan adalah: 4
a. Yang berhubungan dengan pajanan zat karsinogen, seperti:
* Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
* Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
* Radon, arsen, kromium, nikel, polycyclic hydrocarbon, vinyl chloride
b. Polusi udara
pasien kanker paru lebih banyak didaerah urban yang banyak polusi udaranya dibandingkan yang tinggal didaerah rural.
c. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru.
Dua faktor lain yang dapat pula berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kanker paru adalah diet dan familial. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perokok yang dietnya rendah vitamin A memperbesar risiko terjadinya kanker paru. Terdapat juga bahwa anggota keluarga dari penderita kanker pau memiliki risiko yang lebih besar terhadap penyakit ini, walaupun demikian tidak diketahui apakah hal ini benar-benar herediter atau karena faktor familial. 1
Patologi
Kanker paru-paru primer biasanya diklasifikasikan menurut jenis histologinya, semuanya memiliki riwayat alami dan respon terhadap pengobatan yang berbeda-beda.
a. SCLC (Small Cell Lung Cancer)
Gambaran histologis yang khas adalah dominasi sel-sel kecil yang hampir semuanya diisi oleh mukus dengan sebaran kromatin dan sedikit sekali/tanpa nukleoli. Sel kecil ini cenderung berkumpul disekeliling pembuluh darah halus. Sel-sel yang bermitosis banyak sekali ditemukan begitu juga gambaran nekrosis. DNA yang terlepas menyebabkan warna gelap disekitar pembuluh darah.
SCLC mempunyai daya metastasis yang lebih tinggi, yakni sebelum tumor primer dapat dideteksi metastasis telah terjadi pada kelenjar limfe. Disamping itu SCLC juga mempunyai tingkat pembelahan yang tinggi, sehingga relatif lebih sensitif terhadap tindakan radioterapi maupun sitostatik, akan tetapi tertutup kemungkinan untuk dilakukannya tindakan operasi. 4,5
b. NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)
Karsinoma sel skuamosa berciri khas proses keratinisasi dan pembentukan bridge intraselular. Studi sitologi memperlihatkan perubahan yang nyata dari displasia skuamosa ke karsinoma in situ. 4
Gambaran Klinis 4
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan gejala berat pasien sudah dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
a. Lokal (tumor tumbuh setempat):
• Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronik.
• Hemoptisis.
• Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas.
• Kadang terdapat kavitas seperti abses paru.
• Ateletaksis.
b. Invasi lokal:
• Nyeri dada.
• Dispnea karena efusi pleura.
• Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia.
• Sindrom vena cava superior.
• Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis).
• Suara serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent.
• Sindrom Pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis servikalis.
c. Gejala penyakit metastasis:
• Pada otak, tulang, hati, adrenal
• Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
d. Sindrom Paraneoplastik:
Terdapat pada 10 % kanker paru dengan gejala:
• Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam.
• Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulsi.
• Hipertrofi osteoartropati.
• Neurologik: demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer.
• Neuromiopati
• Endokrin: sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalsemia).
• Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh.
• Renal: SIADH.
e. Asimtomatik dengan kelainan radiologis
• Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara radiologis.
• Kelainan berupa nodul soliter.
Prosedur Diagnostik
Alat utama untuk mendiagnosis kanker paru adalah radiologi, bronkoskopi, dan sitologi. CT scan mungkin dapat memberikan bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi-lesi yang dicurigai. 4
Menurut Veeze (1968) gambaran radiologi yang terdapat pada prinsipnya dapat dibagi atas 3 bagian, yakni: 5
• Nodus perifer antara 20-40 %
• Pembesaran hilus yang terjadi berkisar antara 30-40 %
• Infiltrasi atau ateletaksis 30-50 %
Menurut Rigle (1955) diameter rata-rata dari masing-masing hilus adalah 5,5 cm. dengan jumlah diameter kedua hilus adalah 11 cm, maka perbedaan antara kedua hilus menjadi kurang dari 1 cm. hilus dikatakan melebar bila diameter total lebih dari 13 cm atau perbedaan diantaranya lebih dari 1,7 cm. 5
1. Pemeriksaan Radiologi 6
a. Foto thoraks PA, lateral dan oblique (bila perlu). Hal ini untuk menentukan letak tumor dengan tepat. Kelainan dapat berupa bayangan padat dengan batas suram atau tegas. Harus dicari tandapembesaran kelenjar getah bening di hilus, tanda destruksi iga, pendorongan atau penarikan trakea dan mediastinum, serta kelumpuhan diafragma.
b. Pemeriksaan sinar tembus untuk melihat adanya kelumpuhan diafragma, juga untuk melihat apakah tumor berdenyut atau tidak.
c. Pemeriksaan tomogram untuk menentukan pembesaran kelenjar bening di hilus/mediastinum.
d. Pemeriksaan bronkografi untuk memperlihatkan letak tumor dipercabangan bronkus.
e. Pemeriksaan untuk mencari metastasis jauh:
• Bone Survey/Bone Scanning, untuk mencari metastasis di tulang-tulang.
• Liver Scanning atau Ultrasonografi, untuk mencari metastasis di hati.
• Computerized tomography scanning (CT-Scanning) dari cranium/brain scanning.
• Beberapa ahli menggunakan CT-Scan abdomen, untuk melihat metastasis supra renal.
2. Bronkoskopi 6
Kelainan yang dapat ditemukan secara bronkoskopik ialah:
• Kelainan dinding bronkus yang berupa: tumor intrabronkial
• Perubahan pada lumen bronkus, berupa stenosis atau obstruksi.
Pemeriksaan bronkoskopi harus dilanjutkan dengan pengambilan bahan pemeriksaan histologis/sitologis.
3. Sitologi 4,6
Bahan didapatkan dari:
• Sputum: pada kanker paru yang letaknya sentral, pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85 %pada sel skuamosa.
• Cairan pleura: dilakukan bila terdapat efusi pleura. Selain untuk diagnostik juga bertujuan terapeutik.
• Bilasan bronkus
Staging Kanker paru 4
Staging yang dibuat oleh The International System for Staging Lung Cancer, serta diterima oleh The American Joint Committee on Cancer (AJCC) dan The Union Internationale Contre Ie Cancere (UICC), memberikan klasifikasi kanker paru pada tahun 1973 dan kemudian direvisi 1986 dan terakhir pada tahun 1997.
Staging sistem TNM terdiri dari:
Occult Ca Tx No Mo BARU 1997 TNM
Stage 0 Tis Carcinoma Insitu
Stage I T1-2 N0 M0 Stage IA T1N0M0
Stage II T1-2 N1 M0 Stage IB T2N0M0
Stage III A T3
T1-3 N0-1
N2 M0
M0 Stage IIA
Stage IIB T1N1M0
T2N1M0
Stage IIIB
Stage IV
T4
T1-3
T1-4 N0-3
N3
N1-3 M0
M0
M1 Stage IIIA
Stage IIIB
Stage IV
T1-3N2M0
T3N1M0
T4 Any NM0
Any TN3M0
Any T Any NM1
Keterangan :
Tx = * tumor terbukti ganas didapat dari sekret bronkopulmoner, tapi tidak terlihat secara bronkoskopis dan radiologis.
* tumor tidak bias dinilai pada staging retreatment.
Tis = carcinoma in situ (pre invasive carcinoma)
T1 = tumor, diameter < 3 cm
T2 = tumor, diameter 3 cm atau terdapat ateletaksis pada distal hilus
T3 = tumor ukuran apa pun meluas ke pleura, dinding dada, diafragma, perikardium, < 2 cm dari karina, terdapat ateletaksis total.
T4 = tumor ukuran apapun invasi ke mediastinum atau terdapat efusi pleura maligna.
No = tidak ada kelenjar getah bening (KGB) yang terlibat
N1 = metastasis KGB bronkopulmoner atau ipsilateral hilus
N2 = metastasis KGB mediastinal atas sub carina
N3 = metastasis KGB mediastinal kontra lateral atau hilus atau KGB skalenus atau supraklavikular
Mo = tidak ada metastasis jinak
M1 = metastasis jinak pada organ (otak, hati, dll)
Pengobatan
Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy (multi-modaliti terapi). Kenyataannya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya dihadapkan pada jenis histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi non-medis seperti fasiliti yang dimiliki Rumah Sakit dan ekonomi penderita juga merupakan faktor yang amat menentukan. 2
Tujuan pengobatan kanker : 4
1. Kuratif : menyembuhkan, memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup pasien.
2. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
3. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal : mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.
4. Suportif : menunjang pengobatan kuratif, paliatif, dan terminal seperti pemberian nutrisi, transfusi darah dan komponen darah, growth factors obat anti nyeri dan obat anti infeksi.
Pada NSCLC, terapi bedah adalah pilihan pertama pada stadium I atau II pada pasien dengan sisa cadangan parenkim paru yang cukup. Luasnya penyebaran intradada yang ditemui saat operasi menjadi pegangan luas prosedur operasi yang dilaksanakan. 4
Survival pasien yang dioperasi pada stadium I mendekati 60 %, pada stadium II 26-37 %, dan II A 17-36,3 %. Pada stadium III A masih ada kontroversi mengenai keberhasilan operasi bila kelenjar mediastinum ipsilateral atau dinding thoraks terdapat metastasis. Pasien III b dan IV tidak dioperasi. Combined modality therapy yaitu gabungan radiasi, kemoterapi dengan operasi (dua atau tiga modalitas) dilaporkan memperpanjang survival. 4
a. Radioterapi
Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000 – 6000 cGy, dengan cara pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu. 2
Syarat standar sebelum penderita diradiasi adalah : 2
1. Hb > 10 gr%
2. Trombosit > 100.000/mm3
3. Leukosit > 3000/dl
Pada pasien dengan metastasis sebatas N1-2 atau saat operasi terlihat tumor sudah merambat sebatas sayatan operasi, radiasi pasca operasi dianjurkan untuk diberikan. Radiasi praoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar misalnya pada reseksi lebih komplit pada tumor pancoast atau stadium III B dilaporkan bermanfaat dari beberapa sentra kanker. Radiasi paliatif pada kasus sindrom vena cava superior atau kasus dengan komplikasi dalam rongga dada akibat kanker seperti hemoptisis, ateletaksis, mengurangi nyeri akibat metastasis ke kranium dan tulang. 4
b. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus ditentukan jenis histologis tumor dan tampilan (performance status). Dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalam kombinasi regimen kemoterapi. Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat antikanker dapat dilakukan. 2
Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemoterapi : 2
1. Tampilan ≥ 70-80, pada penderita dengan PS < 70 atau usia lanjut, dapat diberikan obat antikanker dengan regimen tertentu dan/atau jadual tertentu
2. Hb ≥ 10 gr%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut,meski Hb < 10 gr% tidak perlu transfusi darah segera, cukup diberi terapi sesuai dengan penyebab anemia
3. Granulosit ≥ 1500/mm3
4. Trombosit ≥ 100.000/mm3
5. Fungsi hati baik
6. Fungsi ginjal baik
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kegagalan pencapaian target pengobatan antara lain : 4
• Resistensi terhadap sitostatik
• Penurunan dosis sitostatik : penurunan dosis sebesar 20 % akan menurunkan angka harapan sembuh sekitar 50 %
• Penurunan intensitas obat, karena jumlah obat yang diterima selama kurun waktu tertentu kurang.
c. Pembedahan 6
Didasarkan atas jenis histologi, derajat, (stage, stadium), dan toleransi/tampilan (performance status) penderita. Disamping itu perlu juga diperhatikan faktor umur, faal paru, faal jantung, dan faal organ lain.
d. Pemilihan Obat 4
Kebanyakan obat sitostatik mempunyai aktivitas cukup baik pada NSCLC dengan tingkat respons antara 15-33 %, walaupun demikian penggunaan obat tunggal tidak capai remisi komplit. Kombinasi beberapa sitostatik telah banyak diteliti untuk meningkatkan tingkat respon yang akan berdampak pada harapan hidup.
Mula-mula rejimen CAMP yang terdiri dari siklofosfamid, doksorubisin metotreksat dan prokarbasin, tingkat respons regimen ini 26 %.
Obat baru saat ini telah banyak dihasilkan dan dicobakan sebagai obat tunggal seperti Paclitaxel, Docetaxel, Vinorelbine, Gemcitabine, dan Irenotecan dengan hasil yang cukup menjanjikan. Begitu juga bila dimasukkan ke rejimen lama membentuk rejimen baru.
Prognosis
Prognosis secara keseluruhan bagi pasien-pasien dengan karsinoma bronkogenik adalah buruk (kelangsungan hidup 5 %) dan hanya sedikit meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun telah diperkenalkan berbagai agen-agen kemoterapi yang baru. Dengan demikian , penekanan harus diberikan pada pencegahan. 1
1. Small Cell Lung Cancer (SCLC) 4
• Dengan adanya perubahan terapi dalam 15-20 tahun belakangan ini kemungkinan hidup rata-rata (median survival time) yang tadinya < 3 bulan meningkat menjadi 1 tahun.
• Pada kelompok Limited Disease kemungkinan hidup rata-rata naik menjadi 1-2 tahun, sedangkan 20 % daripadanya tetap hidup dalam 2 tahun.
• 30 % meninggal karena komplikasi lokal tumor.
• 70 % meninggal karena karsinomatosis.
• 50 % bermetastasis ke otak (autopsi).
2. Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC) 4
• Yang terpenting pada prognosis kanker paru ini adalah menentukan stadium penyakit.
• Dibandingkan dengan jenis lain NSCLC, karsinoma skuamosa tidaklah seburuk yang lainnya. Pada pasien yang dilakukan tindakan bedah, kemungkinan hidup 5 tahun setelah operasi adalah 30 %.
• Survival setelah tindakan bedah, 70 % pada occult carcinoma; 35-40 % pada stadium 1; 10-15 % pada stadium II dan kurang dari 10 % pada stadium III.
• 75 % karsinoma skuamosa meninggal akibat komplikasi torakal, 2 % diantaranya meninggal karena gangguan sistem saraf sentral.
• 40 % adenokarsinoma dan karsinoma sel besar meninggal akibat komplikasi torakal, 55 % karena ekstra torakal.
• 15 % adenokarsinoma dan karsinoma sel besar bermetastasis ke otak dan 8-9 % meninggal karena kelainan sistem saraf sentral.
• Kemungkinan hidup rata-rata pasien tumor metastasis bervariasi, dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun, hal ini sangat tergantung pada :
- Performance status.
- Luasnya penyakit.
- Adanya penurunan berat badan dalam 6 bulan terakhir.
Pencegahan 4
• Pencegahan yang paling penting adalah tidak merokok sejak usia muda. Berhenti merokok dapat mengurangi risiko terkena kanker paru. Penelitian dari kelompok perokok yang berusaha berhenti merokok, hanya 30 % yang berhasil.
• Akhir-akhir ini pencegahan dengan chemoprevention banyak dilakukan, yakni dengan memakai derivate asam retinoid,karotenoid, vitamin C, selenium, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wilson M. Lorrain, Tumor Ganas Paru-paru dalam Patofisiologi, buku II, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Kanker Paru dalam Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Kanker Paru di Indonesia, Jakarta, 2001.
3. Kurniawan A.N, Penyakit Paru-paru dalam Kumpulan Kuliah Patologi, Penerbit FKUI, Jakarta, 1998.
4. Amin Zulkifli, Bahar Asril, Tumor paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi Ketiga, Penerbit FKUI, Jakarta, 2001.
5. Rab, Tabrani, Diagnosa Dini Kanker Paru, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 1982.
6. Ismid D.I Busroh, Pembedahan Kanker Paru dalam Pembedahan Pada Keganasan Saluran Utama Pernapasan, Penerbit Universitas Indonesia,cetakan pertama, Jakarta, 2004.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul “Kanker Paru”, yang merupakan tugas mahasiswa program profesi yang menjalankan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian/SMF Ilmu Pulmonologi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan referat ini, terutama kepada pembimbing dr. T. Moead Zulkifly, Sp.P, dosen SMF Pulmonologi FK Unsyiah-RSUZA Banda Aceh, juga kepada teman sejawat doktermuda yang telah membantu sepenuhnya dalam penulisan referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya akan kekurangan dan kelemahan yang terdapat pada penulisan referat ini, oleh karena terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang penulis miliki. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan referat ini.
Akhirnya penulis mengharapkan agar tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun pihak lain yang berkepentingan.
Banda Aceh, Desember 2005
Penulis
Meta Maulinda, S.Ked
ARITMIA JANTUNG
Typhoid fever: New trends in antibiotics usage
Gejala demam typhoid pada anak:
• demam > 7 hari
• gejala gastrointestinal yang menonjol: diare (39%), muntah (26%), mual (42%), nyeri perut (60%)
• biasanya mengenai usia > 5 tahun dan tanpa gejala lain
• terapi: sampai saat ini kloramfenikol masih merupakan 1st line terapi
• terapi yang dapat digunakan saat ini:
o kloramfenikol (panas turun dalam 4,2 ±1,1 hari)
o ampisillin
o amoxicillin
o ceftiaxone 50-80 mg/kg/hr IV dosis tunggal selama 5 hari (panas turun dalam 5,4 ± 1,5 hari)
o cefiksim 10-12 mg/kg/hr 2 dosis per oral selama 14 hari
o quinolone (tidak digunakan pada anak-anak, karena dapat menghambat pertumbuhan tulangnya). Pada dewasa penggunaan quinolone rata-rata dalam 1,96 hari panas sudah turun
o azithromicin (jarang digunakan)
• Diagnosa:
o kultur (sampai saat ini masig gold standard)
o widal
o IgM typhii dipstick
o Rapid Immunoassay test à cepat
o PCR (harus disertai dukungan klinis, mahal)
o Kedua tes terakhir dapat menggantikan pemeriksaan widal dimasa mendatang
• Dalam meminta pemeriksaan kultur harus disertai dengan pemeriksaan Resistensi
Clinical usage of extended released quinolones
Obat yang ditonjolkan : Ciprofloxacin
Pada kasus demam typhoid:
• IgM terbentuk pada hari ke 5
• IgG dahulu yang harus diperiksa pada infeksi sekunder typhoid
• Diagnosa: panas 3 hari atau lebih, kultur sal typhii positif
• Kultur faeces dan urine positive pada minggu ke 2 dan ke 3
• Pemeriksaan terbaru yang menjanjikan: TUBEX TF
• Terapi demam typhoid dengan sensitivitas 100%: ceftriaxone (penurunan demam terjadi pada hari ke 6,1), fluoroquinolon (penurunan demam terjadi pada hari 3,9)
• New once daily extended release Ciprofloxacin mempunyai efikasi yang sebanding dengan yang dosis konvensional.
• Rendahnya angka kejadian terhadap resistensi ciprofloxacin
• Fluoroquinolon adalah 1st line terapi untuk kasus UTI yang tanpa komplikasi didaerah resisten Cotrimoxazole >10%
• Ciprofloxacin juga digunakan untuk kasus pielonefritis akut tanpa komplikasi
Recent development of gram positive infections
Yang dibawakan oleh: Dr Fera Ibrahim
• Dalam kasus MRSA, obat yang saat ini digunakan:
o Vancomycin (saat ini sudah vancomycin resisten enterococcus)
o Ciprofloxacin
• Resistensi dapat terjadi karena:
• Selektif antibiotik à kuman menjadi sensitive
• Bakteri punya beberapa cara untuk menjadi resisten salah satunya adalah menurunnya permeabilitas bakteri terhadap obat
• Resistensi ada di plasmid, chromosom yang akan ditransfer
• ß-lactam: menginaktifkan protein binding penicillin
• bakteri itu sendiri sudah mempunyai fantor intrinsic resistance (contoh: Enterococcus) sudah mempunyai sifat resisten terhadap antibiotik
• Kesimpulan: meningkatkanya masalah perubahan epidemiologi dan resistensi terhadap gram positif, adanya penggunaan antibiotik yang tidak semestinya dan dibutuhkan kerjasama seluruh instansi kesehatan untuk mengatasi masalah ini.
Gejala demam typhoid pada anak:
• demam > 7 hari
• gejala gastrointestinal yang menonjol: diare (39%), muntah (26%), mual (42%), nyeri perut (60%)
• biasanya mengenai usia > 5 tahun dan tanpa gejala lain
• terapi: sampai saat ini kloramfenikol masih merupakan 1st line terapi
• terapi yang dapat digunakan saat ini:
o kloramfenikol (panas turun dalam 4,2 ±1,1 hari)
o ampisillin
o amoxicillin
o ceftiaxone 50-80 mg/kg/hr IV dosis tunggal selama 5 hari (panas turun dalam 5,4 ± 1,5 hari)
o cefiksim 10-12 mg/kg/hr 2 dosis per oral selama 14 hari
o quinolone (tidak digunakan pada anak-anak, karena dapat menghambat pertumbuhan tulangnya). Pada dewasa penggunaan quinolone rata-rata dalam 1,96 hari panas sudah turun
o azithromicin (jarang digunakan)
• Diagnosa:
o kultur (sampai saat ini masig gold standard)
o widal
o IgM typhii dipstick
o Rapid Immunoassay test à cepat
o PCR (harus disertai dukungan klinis, mahal)
o Kedua tes terakhir dapat menggantikan pemeriksaan widal dimasa mendatang
• Dalam meminta pemeriksaan kultur harus disertai dengan pemeriksaan Resistensi
Clinical usage of extended released quinolones
Obat yang ditonjolkan : Ciprofloxacin
Pada kasus demam typhoid:
• IgM terbentuk pada hari ke 5
• IgG dahulu yang harus diperiksa pada infeksi sekunder typhoid
• Diagnosa: panas 3 hari atau lebih, kultur sal typhii positif
• Kultur faeces dan urine positive pada minggu ke 2 dan ke 3
• Pemeriksaan terbaru yang menjanjikan: TUBEX TF
• Terapi demam typhoid dengan sensitivitas 100%: ceftriaxone (penurunan demam terjadi pada hari ke 6,1), fluoroquinolon (penurunan demam terjadi pada hari 3,9)
• New once daily extended release Ciprofloxacin mempunyai efikasi yang sebanding dengan yang dosis konvensional.
• Rendahnya angka kejadian terhadap resistensi ciprofloxacin
• Fluoroquinolon adalah 1st line terapi untuk kasus UTI yang tanpa komplikasi didaerah resisten Cotrimoxazole >10%
• Ciprofloxacin juga digunakan untuk kasus pielonefritis akut tanpa komplikasi
Recent development of gram positive infections
Yang dibawakan oleh: Dr Fera Ibrahim
• Dalam kasus MRSA, obat yang saat ini digunakan:
o Vancomycin (saat ini sudah vancomycin resisten enterococcus)
o Ciprofloxacin
• Resistensi dapat terjadi karena:
• Selektif antibiotik à kuman menjadi sensitive
• Bakteri punya beberapa cara untuk menjadi resisten salah satunya adalah menurunnya permeabilitas bakteri terhadap obat
• Resistensi ada di plasmid, chromosom yang akan ditransfer
• ß-lactam: menginaktifkan protein binding penicillin
• bakteri itu sendiri sudah mempunyai fantor intrinsic resistance (contoh: Enterococcus) sudah mempunyai sifat resisten terhadap antibiotik
• Kesimpulan: meningkatkanya masalah perubahan epidemiologi dan resistensi terhadap gram positif, adanya penggunaan antibiotik yang tidak semestinya dan dibutuhkan kerjasama seluruh instansi kesehatan untuk mengatasi masalah ini.
Thyfoid Fever
Typhoid fever: New trends in antibiotics usage
Gejala demam typhoid pada anak:
• demam > 7 hari
• gejala gastrointestinal yang menonjol: diare (39%), muntah (26%), mual (42%), nyeri perut (60%)
• biasanya mengenai usia > 5 tahun dan tanpa gejala lain
• terapi: sampai saat ini kloramfenikol masih merupakan 1st line terapi
• terapi yang dapat digunakan saat ini:
o kloramfenikol (panas turun dalam 4,2 ±1,1 hari)
o ampisillin
o amoxicillin
o ceftiaxone 50-80 mg/kg/hr IV dosis tunggal selama 5 hari (panas turun dalam 5,4 ± 1,5 hari)
o cefiksim 10-12 mg/kg/hr 2 dosis per oral selama 14 hari
o quinolone (tidak digunakan pada anak-anak, karena dapat menghambat pertumbuhan tulangnya). Pada dewasa penggunaan quinolone rata-rata dalam 1,96 hari panas sudah turun
o azithromicin (jarang digunakan)
• Diagnosa:
o kultur (sampai saat ini masig gold standard)
o widal
o IgM typhii dipstick
o Rapid Immunoassay test à cepat
o PCR (harus disertai dukungan klinis, mahal)
o Kedua tes terakhir dapat menggantikan pemeriksaan widal dimasa mendatang
• Dalam meminta pemeriksaan kultur harus disertai dengan pemeriksaan Resistensi
Clinical usage of extended released quinolones
Obat yang ditonjolkan : Ciprofloxacin
Pada kasus demam typhoid:
• IgM terbentuk pada hari ke 5
• IgG dahulu yang harus diperiksa pada infeksi sekunder typhoid
• Diagnosa: panas 3 hari atau lebih, kultur sal typhii positif
• Kultur faeces dan urine positive pada minggu ke 2 dan ke 3
• Pemeriksaan terbaru yang menjanjikan: TUBEX TF
• Terapi demam typhoid dengan sensitivitas 100%: ceftriaxone (penurunan demam terjadi pada hari ke 6,1), fluoroquinolon (penurunan demam terjadi pada hari 3,9)
• New once daily extended release Ciprofloxacin mempunyai efikasi yang sebanding dengan yang dosis konvensional.
• Rendahnya angka kejadian terhadap resistensi ciprofloxacin
• Fluoroquinolon adalah 1st line terapi untuk kasus UTI yang tanpa komplikasi didaerah resisten Cotrimoxazole >10%
• Ciprofloxacin juga digunakan untuk kasus pielonefritis akut tanpa komplikasi
Recent development of gram positive infections
Yang dibawakan oleh: Dr Fera Ibrahim
• Dalam kasus MRSA, obat yang saat ini digunakan:
o Vancomycin (saat ini sudah vancomycin resisten enterococcus)
o Ciprofloxacin
• Resistensi dapat terjadi karena:
• Selektif antibiotik à kuman menjadi sensitive
• Bakteri punya beberapa cara untuk menjadi resisten salah satunya adalah menurunnya permeabilitas bakteri terhadap obat
• Resistensi ada di plasmid, chromosom yang akan ditransfer
• ß-lactam: menginaktifkan protein binding penicillin
• bakteri itu sendiri sudah mempunyai fantor intrinsic resistance (contoh: Enterococcus) sudah mempunyai sifat resisten terhadap antibiotik
• Kesimpulan: meningkatkanya masalah perubahan epidemiologi dan resistensi terhadap gram positif, adanya penggunaan antibiotik yang tidak semestinya dan dibutuhkan kerjasama seluruh instansi kesehatan untuk mengatasi masalah ini.
Gejala demam typhoid pada anak:
• demam > 7 hari
• gejala gastrointestinal yang menonjol: diare (39%), muntah (26%), mual (42%), nyeri perut (60%)
• biasanya mengenai usia > 5 tahun dan tanpa gejala lain
• terapi: sampai saat ini kloramfenikol masih merupakan 1st line terapi
• terapi yang dapat digunakan saat ini:
o kloramfenikol (panas turun dalam 4,2 ±1,1 hari)
o ampisillin
o amoxicillin
o ceftiaxone 50-80 mg/kg/hr IV dosis tunggal selama 5 hari (panas turun dalam 5,4 ± 1,5 hari)
o cefiksim 10-12 mg/kg/hr 2 dosis per oral selama 14 hari
o quinolone (tidak digunakan pada anak-anak, karena dapat menghambat pertumbuhan tulangnya). Pada dewasa penggunaan quinolone rata-rata dalam 1,96 hari panas sudah turun
o azithromicin (jarang digunakan)
• Diagnosa:
o kultur (sampai saat ini masig gold standard)
o widal
o IgM typhii dipstick
o Rapid Immunoassay test à cepat
o PCR (harus disertai dukungan klinis, mahal)
o Kedua tes terakhir dapat menggantikan pemeriksaan widal dimasa mendatang
• Dalam meminta pemeriksaan kultur harus disertai dengan pemeriksaan Resistensi
Clinical usage of extended released quinolones
Obat yang ditonjolkan : Ciprofloxacin
Pada kasus demam typhoid:
• IgM terbentuk pada hari ke 5
• IgG dahulu yang harus diperiksa pada infeksi sekunder typhoid
• Diagnosa: panas 3 hari atau lebih, kultur sal typhii positif
• Kultur faeces dan urine positive pada minggu ke 2 dan ke 3
• Pemeriksaan terbaru yang menjanjikan: TUBEX TF
• Terapi demam typhoid dengan sensitivitas 100%: ceftriaxone (penurunan demam terjadi pada hari ke 6,1), fluoroquinolon (penurunan demam terjadi pada hari 3,9)
• New once daily extended release Ciprofloxacin mempunyai efikasi yang sebanding dengan yang dosis konvensional.
• Rendahnya angka kejadian terhadap resistensi ciprofloxacin
• Fluoroquinolon adalah 1st line terapi untuk kasus UTI yang tanpa komplikasi didaerah resisten Cotrimoxazole >10%
• Ciprofloxacin juga digunakan untuk kasus pielonefritis akut tanpa komplikasi
Recent development of gram positive infections
Yang dibawakan oleh: Dr Fera Ibrahim
• Dalam kasus MRSA, obat yang saat ini digunakan:
o Vancomycin (saat ini sudah vancomycin resisten enterococcus)
o Ciprofloxacin
• Resistensi dapat terjadi karena:
• Selektif antibiotik à kuman menjadi sensitive
• Bakteri punya beberapa cara untuk menjadi resisten salah satunya adalah menurunnya permeabilitas bakteri terhadap obat
• Resistensi ada di plasmid, chromosom yang akan ditransfer
• ß-lactam: menginaktifkan protein binding penicillin
• bakteri itu sendiri sudah mempunyai fantor intrinsic resistance (contoh: Enterococcus) sudah mempunyai sifat resisten terhadap antibiotik
• Kesimpulan: meningkatkanya masalah perubahan epidemiologi dan resistensi terhadap gram positif, adanya penggunaan antibiotik yang tidak semestinya dan dibutuhkan kerjasama seluruh instansi kesehatan untuk mengatasi masalah ini.
Kamis, 12 Agustus 2010
KEUTAMAAN SEDEKAH (Pengalaman Pribadi)
Pengalaman ini mungkin menjadi sangat menarik bagiku….(share dari seorang teman dokter)
Ketika kita mengingat “janji Allah itu pasti”….
Seperti yang pernah kita baca bahwa kalo kita besedeqah atau berinfaq pada dasarnya adalah kita membantu diri kita sendiri, artinya rezeki kita ditambah…dan dikatakan malah akan dikalikan 10 kali lipat…..kadang tidak masuk diakal kita..tapi inilah kenyataannya…..
1. Pada satu ketika sekitar bulan oktober 2009, aku merujuk pasien dari Aceh jaya ke Banda Aceh sekaligus menjadi pendamping, karena pasien dalam keadaan kritis, oleh keluarga pasien membayar Rp.700.000,-.awalnya aku tidak tau kalau ada jatah buat pendamping. ternyata sang supir ambulan memberiku uang 200.000,-…pasien ini meninggal dunia saat dalam perjalanan…2 hari kemudian aku balik ke tempat kerjaku, aku merasa tidak pantas mengambil uang ini…dikantongku cuma ada uang 250.000..aku kemudian berinisiatif untuk mengembalikan uang itu (secara memang uangnya menurut aturan memang sudah hak aku)…tinggallah uang 50.000 di kantong…hal yang membingungkan karena saat itu aku benar2 tidak punya uang…dan apa yang terjadi keesokan harinya..Bendahara Puskesmas memberikan uang meugang (awal puasa) Rp.1.000.000 kepadaku, ditambah dengan uang jaga 450.000, lalu ditambah dengan uang program kesehatan jiwa 200.000, ada keluarga pasien yang klaim asuransi member 350.000, karena jauh hari pernah menandatangani asuransi pasien rawatan..Kesemuanya terjadi dalam satu hari, total uang Rp.2.000.000,-
2. 200 ribu menjadi 2 juta dalam sesaat, artinya uangku sekarang menjadi 2 juta…Allah memberinya menjadi 10 kali lipat.
3. Moga-moga share ini bermanfaat…
Mohon maaf bukan maksud saya ingin mengatakan saya bersedekah, atau setiap bersedekah akan secara langsung dibalas oleh Allah, Allah berhak atas makhluknya..namun share ini hanya untuk memberi motivasi kita semua.. Barakallah
( thank you, my friend for share this story)
Ketika kita mengingat “janji Allah itu pasti”….
Seperti yang pernah kita baca bahwa kalo kita besedeqah atau berinfaq pada dasarnya adalah kita membantu diri kita sendiri, artinya rezeki kita ditambah…dan dikatakan malah akan dikalikan 10 kali lipat…..kadang tidak masuk diakal kita..tapi inilah kenyataannya…..
1. Pada satu ketika sekitar bulan oktober 2009, aku merujuk pasien dari Aceh jaya ke Banda Aceh sekaligus menjadi pendamping, karena pasien dalam keadaan kritis, oleh keluarga pasien membayar Rp.700.000,-.awalnya aku tidak tau kalau ada jatah buat pendamping. ternyata sang supir ambulan memberiku uang 200.000,-…pasien ini meninggal dunia saat dalam perjalanan…2 hari kemudian aku balik ke tempat kerjaku, aku merasa tidak pantas mengambil uang ini…dikantongku cuma ada uang 250.000..aku kemudian berinisiatif untuk mengembalikan uang itu (secara memang uangnya menurut aturan memang sudah hak aku)…tinggallah uang 50.000 di kantong…hal yang membingungkan karena saat itu aku benar2 tidak punya uang…dan apa yang terjadi keesokan harinya..Bendahara Puskesmas memberikan uang meugang (awal puasa) Rp.1.000.000 kepadaku, ditambah dengan uang jaga 450.000, lalu ditambah dengan uang program kesehatan jiwa 200.000, ada keluarga pasien yang klaim asuransi member 350.000, karena jauh hari pernah menandatangani asuransi pasien rawatan..Kesemuanya terjadi dalam satu hari, total uang Rp.2.000.000,-
2. 200 ribu menjadi 2 juta dalam sesaat, artinya uangku sekarang menjadi 2 juta…Allah memberinya menjadi 10 kali lipat.
3. Moga-moga share ini bermanfaat…
Mohon maaf bukan maksud saya ingin mengatakan saya bersedekah, atau setiap bersedekah akan secara langsung dibalas oleh Allah, Allah berhak atas makhluknya..namun share ini hanya untuk memberi motivasi kita semua.. Barakallah
( thank you, my friend for share this story)
Selasa, 04 Mei 2010
HATI HATI PENIPUAN BISNIS ONLINE GLOBAL SAHAM
Saya salah satu membership globalsaham mulai 22 april 2010, penyajian iklan bisnis online ini sangat meyakinkan, katanya kita diberi profit harian yang menjanjikan. sebelumnya saya sangat yakin dengan global saham karena sponsor saya bernama erhas mendapatkan profit, mungkin karena setoran awal kecil yaitu 100.000,-sedangkan saya masuk dengan angka 500.000,- saya menggunakan rekening BRI dan mungkin clearing bila profit lama masuknya, tapi bila sudah 2 minggu tidak masuk apakah itu clearing?. bukannya saya mau menuduh disini, namun saya menulis blog ini agar ketika ada person yang men search bisnis online agar mengetahui banyak bahwa banyak kerugiannya, dan lebih hati2...apakah anda mau bergabung atau tidak terserah anda. saya menyiapkan diri saya menjadi "korban" dan semoga pembaca blog ini mendapatkan manfaatnya...saya berencana akan membuat blog ini minggu depan, tapi saya pikir lebih cepat lebih baik...hp saya 085277015025, www.gobalsaham.com/?ref=2308 adalah bukti fullmembership saya di GOBALSAHAM dan sudah dua minggu belum mendapatkan apa-apa..
nama rekening yang kita transfer adalah CHANDRA AGUSTIAN PRATAMA, Nomor hp admin 085722291474...
semoga ini menjadi catatan penting bagi kita....
nama rekening yang kita transfer adalah CHANDRA AGUSTIAN PRATAMA, Nomor hp admin 085722291474...
semoga ini menjadi catatan penting bagi kita....
Langganan:
Postingan (Atom)